comscore

Pakar ITS: Lumpur Lapindo Simpan Potensi Material Energi Hijau

Arga sumantri - 31 Januari 2022 17:08 WIB
Pakar ITS: Lumpur Lapindo Simpan Potensi Material Energi Hijau
Lumpus Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Foto: Dok Humas ITS.
Surabaya: Isu pembangunan berkelanjutan membuat energi hijau menjadi prioritas dunia. Tidak terkecuali, pemerintah Indonesia yang memacu industri-industri berbasis energi hijau sebagai salah satu fokus kebijakan investasi. 

Indonesia dinilai mempunyai potensi besar karena memiliki pasokan bahan baku pendukung pengembangan energi hijau. Salah satunya, kandungan lithium yang ditemukan di lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.
Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo mengatakan lithium adalah salah satu Critical Raw Materials (CRMs) atau material kritis. Dikatakan material kritis karena sulit didapatkan dan tidak memiliki pengganti, tetapi memiliki manfaat yang besar. 

"Mmaterial kritis ini sangat diperlukan dalam pengembangan energi hijau.," kata Amien dalam keterangannya, Senin, 31 Januari 2022.

Dosen Departemen Teknik Geofisika itu menyebutkan salah satu kebijakan pemerintah dalam pengembangan energi hijau adalah percepatan produksi kendaraan listrik. Produksi massal baterai pun dilakukan.

Baca: Ini 13 Spesies Flora Baru Temuan BRIN

Meskipun Indonesia memiliki 25 persen cadangan nikel dunia sebagai bahan baku pembuatan baterai, kata dia, produksi baterai juga membutuhkan lithium. Sayangnya, sampai saat ini masih belum ditemukan lokasi penambangan yang menjanjikan. 

"Penemuan potensi kandungan lithium di lumpur Sidoarjo adalah kabar baik. Tentunya sangat luar biasa jika kita bisa memanfaatkannya," ujarnya.

Amien memaparkan sebelumnya Pusat Studi Kebumian dan Bencana (sekarang Puslit MKPI) ITS telah melakukan kajian kandungan lithium yang ada dalam air lumpur Sidoarjo sejak tahun 2016. Kajian ini dilakukan dengan adsorbsi lithium dari lumpur Sidoarjo menggunakan adsorben berbasis Lithium Mangan Oksida (LMO). 

Adsorben ini memiliki struktur kristal spinel yang mampu menyerap lithium. Hasil kajian ini menunjukkan kandungan lithium dengan kadar sebesar 7 hingga 15 bagian per juta.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2020 menggunakan teknik Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectrometry (ICP-OES). Teknik analisis ini digunakan untuk menentukan komposisi unsur dari berbagai logam.

Baca: Asteroid 2022 AA Dekati Bumi pada Februari, Tenang! Tak Berbahaya

Hasilnya, didapatkan lithium dengan kadar 99,26 sampai dengan 280,46 bagian per juta dan stronsium dengan kadar 255,44 sampai dengan 650,49 bagian per juta. 

"Memang terlihat perbedaan signifikan di antara keduanya. Itu karena kami mengambil sampel berupa air lumpur, sedangkan Badan Geologi melakukan penelitian pada lumpurnya," jelasnya.

Ia memaparkan data yang ada saat ini masih merupakan hasil penelitian awal dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Amien berharap pihak ITS turut dilibatkan oleh Badan Geologi maupun pemerintah. 

"Dengan begitu kami dapat belajar banyak mengenai cara eksplorasi dan eksploitasi logam tanah jarang dan material kritis," ungkapnya.

(AGA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id