Kenali Efek Samping Antivirus Covid-19 Berbahan Eucalyptus

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 12 Mei 2020 20:01 WIB
    Kenali Efek Samping Antivirus Covid-19 Berbahan Eucalyptus
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta:  Penggunaan senyawa Eucalyptus sebagai antivirus atau obat Korona (covid-19) harus diuji secara klinis.  Tidak hanya untuk memastikan khasiatnya secara klinis, namun juga dampat atau efek samping dari penggunaannya. 

    Senyawa Eucalyptus dalam bentuk inhaler misalnya, harus dilihat efek bagi pengguna yang alergi.  Sebab jika tidak, penggunaanya malah dapat menimbulkan infeksi pada saluran pernapasan.

    “Jadi harus dilihat pengaruh negatifnya juga terhadap sistem saluran pernafasan,” ujar Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Bahan Alam Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI), Abdul Mun'im kepada Medcom.id, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020.

    Mun'im menyampaikan, senyawa Eucalyptus yang diolah menjadi minyak atsiri atau minyak esensial memang berpotensi memiliki efek antimikroba, termasuk antivirus.  Karena pada umumnya minyak atsiri memang mempunyai efek tersebut. 

    Baca juga:  Pakar: Eucalyptus untuk Antivirus Korona Butuh Penelitian

    Namun jika digunakan sebagai penangkal virus korona, tetap harus dilakukan penelitian terlebih dahulu.  Penelitian tidak hanya untuk mengetahui khasiat, namun juga efek samping bagi penggunanya.

    “Sebab ada laporan penggunaan (senyawa Eucalyptus) di kulit pada anak berusia enam tahun di Australia, itu menyebabkan kesulitan bicara, kelemahan otot, bahkan tak sadarkan diri,” jelasnya.

    Begitu juga jika Eucalyptus, jika digunakan dalam bentuk obat oral atau obat yang dimasukkan lewat mulut, harus diperhatikan efek sampingnya.  Apalagi saat ini belum ada bukti empiris yang menyatakan bahwa Eucalyptus bisa digunakan sebagai obat oral. 

    “Sampai saat ini belum punya informasi penggunaan Eucalyptus secara oral. Jadi harus hati-hati penggunaannya,” terangnya.

    Baca juga:  Harga Antivirus Berbasis Eucalyptus Diupayakan Terjangkau

    Ia pun menyarankan, untuk menjadi obat oral maka harus terlebih dahulu mempunyai data toksisitas akut. Caranya dengan melakukan uji toksisitas LD50 atau dosis letal tengah.

    “Nantinya akan diketahui LD50 atau dosis yang menyebabkan kematian hewan, coba 50%. Dari angka LD50 kita bisa memperkirakan toksisitasnya,” kata Mun’im.

    Selain itu, diketahui Eucalyptus dapat dibuat ke dalam berbagai bentuk, mulai dari inhaler, balsam, hingga roll on.  Dalam hal ini, perlu diperhatikan proses delivery-nya hingga sampai ke pembuluh darah agar dapat menuju virus yang ada di dalam tubuh.

    “Kalau inhaler akan masuk ke darah bisa melalui alveolus paru-paru atau mukosa saluran pernafasan.  Kalau dari kulit, maka harus dilihat apakah bisa masuk sampai ke pembuluh darah.
    Untuk itu perlu pengujian dan pengembangan teknik delivery,” terangnya.

    Sebelumnya, Kementerian Pertanian meluncurkan inovasi antivirus berbasis Eucalyptus. Produk tersebut merupakan hasil uji lab para peneliti pertanian yang diklaim mampu menangkal penyebaran virus korona.

    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Eucalyptus telah berhasil diuji terhadap virus influenza, virus Beta, dan gamma corona dengan kemampuan membunuh virus sebesar 80-100 persen.

    Saat ini terdapat 700 jenis Eucalyptus di dunia dengan kandungan bahan aktif yang beragam. Namun, bahan aktif utamanya terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus.

    "InsyaAllah ini akan berhasil. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk takut terhadap virus ini, tetapi kita juga harus terus waspada. Saya berharap inovasi ini bisa cepat dibagikan kepada masyarakat luas," ungkap Syahrul.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id