Penyebab Gunung Meletus dan Pengaruhnya Terhadap Pemanasan Global

    Arga sumantri - 22 Januari 2021 11:23 WIB
    Penyebab Gunung Meletus dan Pengaruhnya Terhadap Pemanasan Global
    Ilustrasi. Medcom.id



    Bandung: Sejumlah gunung api di Indonesia mengalami kenaikan aktivitas vulkanik, sepanjang awal tahun ini. Sebut saja Gunung Merapi, Semeru, dan Sinabung. 

    Lantas, mengapa gunung api tersebut bisa aktif dan meletus, dan apakah ada pengaruh terhadap pemanasan global? Vulkanolog Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengungkapkan terdapat tiga faktor utama mengapa gunung api bisa meletus, yaitu kondisi di bawah dapur magma, kondisi di dalam dapur magma, dan kondisi di atas dapur magma atau permukaan gunung.






    "Jadi pada prinsipnya gunung api meletus itu terjadi karena ada ketidakstabilan di dalam dapur magma. Karena ketidakstabilan tersebut kemudian dikonversikan menjadi letusan," ujar Mirzam mengutip laman ITB, Jumat, 22 Januari 2021.

    Baca: Mahasiswa Unsoed Kembangkan Sistem Peringatan Dini Pergerakan Tanah

    Mirzam menjelaskan faktor kondisi di bawah dapur magma berkaitan dengan adanya pasokan (supply) magma baru. Proses tersebut berkaitan dengan proses geologi yakni adanya subduksi, palung, pemekaran lantai samudra, dan terdapat titik panas. Selama proses tektonik tersebut bekerja, maka proses pembentukan pasokan magma baru akan terjadi.

    "Akibatnya ketika magma baru itu terbentuk dia bergabung dengan magma yang sudah ada di dalam dapur magma. Nah, ketika terjadi kelebihan volume maka kelebihannya itu harus dikeluarkan sehingga terjadilah erupsi," paparnya. 

    Ia menegaskan, erupsi yang disebabkan faktor pertama ini sifatnya siklus. Artinya, bisa dipelajari, ada rentang waktunya, dan volumenya relatif sama.

    Selanjutnya, faktor kondisi di dalam dapur magma berkaitan dengan jumlah magma yang terdapat di dalamnya. Di dalam ruang itu, magma mengkristal karena suhu menurun. Magma yang sudah terkristalisasi lebih berat daripada batuan panas semi-cair sehingga akan tenggelam ke dasar ruang magma.
     
     

    Ini mendorong sisa magma ke atas, menambah tekanan pada penutup ruang itu. Sebuah letusan terjadi saat tutupnya tidak lagi mampu menahan tekanan. Hal ini juga terjadi dalam sebuah siklus, sehingga dapat diprediksi.

    "Yang berat tenggelam dan yang ringan ke atas maka akan terjadi erupsi karena ada tekanan gas ke atas," ungkapnya.

    Faktor yang kedua ini, kata dia, juga sifatnya siklus yang bisa diprediksi. Tetapi, ada proses yang di dalam dapur magma ini yang sifatnya tidak siklus, tiba-tiba keluar dari polanya. 

    "Nah ini biasanya terjadi ketika dapur magmanya ambruk. Sehingga diibaratkan seperti ember yang sudah penuh kemudian dimasukkan batu ke dalamnya maka airnya pun akan keluar dan ini sulit diprediksi,” terangnya.

    Baca: Peneliti Unpad Khawatir Gunung Manglayang Erupsi Seperti Sinabung

    Faktor terakhir adalah kondisi di atas permukaan gunung. Salah satunya, perubahan pasang-surut ketika gerhana bulan dan gerhana matahari terjadi.

    Pada kasus ini, gunung-gunung api yang berada di tengah laut relatif lebih sensitif karena permukaan air yang naik akan menambah tekanan terhadap gunung api yang berada di tengah laut. Sehingga, apabila gunung apinya berada pada titik kritis maka dia akan cenderung 'batuk-batuk'. Misalnya Krakatau, Gamalama, Banda Api, dan lain-lain.

    Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi meletusnya gunung api adalah berkaitan dengan pelelehan es pada gunung-gunung api yang berada di negara empat musim atau di wilayah kutub. Mirzam mencontohkan Gunung Eyjafjallajökull yang ada di Islandia.
     
     

    Pada 2010, lapisan es yang terdapat di gunung tersebut meleleh karena pemanasan global, dan perubahan dari musim dingin ke musim semi. Gunung Eyjafjallajökull setiap tahun esnya mencair sebanyak 11 miliar ton.

    "Karena es itu meleleh maka bisa dibayangkan gunung api yang tadinya tertutup es sebagai penahan tudungnya, esnya hilang tiba-tiba. Beban yang hilang tersebut membuat kekurangan tekanan yang dapat menyebabkan magma di dalam gunung tersebut sangat mudah naik ke atas sehingga gunung api kemudian meletus," ungkapnya.

    Gunung Meletus Dapat Menyebabkan Pemanasan Global

    Letusan gunung api dapat menyebabkan terjadi pemanasan global (global warming). Hal ini disebabkan karena pada saat gunung api meletus, tidak hanya abu vulkanik yang dikeluarkan, tetapi juga kadang-kadang mengeluarkan gas. 

    Baca: LIPI Prediksi Musim Hujan Hingga Februari, Tetap Waspada Banjir dan Longsor

    Ada dua yang tipe gas yang secara signifikan dikeluarkan gunung api, yaitu gas CO2 dan SO2. Ketika CO2 keluar, maka terjadi efek rumah kaca. Panas yang masuk ke Bumi tertahan dan tidak bisa keluar lagi, sehingga terjadi global warming. 

    "Tetapi kalau SO2 yang keluar itu sebaliknya, gas ini seperti payung jadi panas dari matahari tidak bisa masuk maka letusan Tambora letusan Toba dan beberapa gunung api besar yang mengeluarkan SO2, menurunkan temperatur Bumi sampai beberapa tahun kemudian," bebernya.

    Bagaimana Gunung Api di Indonesia? Menurut Mirzam, karena Indonesia berada di negara tropis, pengaruh faktor pemanasan global sangat kecil sekali. Sebab, Indonesia tidak punya gunung api yang tertutup es. Namun, letusan gunung api di Indonesia bisa mempengaruhi pemanasan global ketika gunung-gunung api itu meletus bersamaan dan mengeluarkan gas CO2 secara signifikan.

    (AGA)
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id