comscore

Riset Unika Atma Jaya: Lansia Pikun Bisa Tetap Produktif di Tengah Pandemi Covid-19

Renatha Swasty - 25 Mei 2022 21:18 WIB
Riset Unika Atma Jaya: Lansia Pikun Bisa Tetap Produktif di Tengah Pandemi Covid-19
Ahli syaraf Unika Atma Jaya Yuda Turana. DOK Unika Atma Jaya
Jakarta: Hasil riset dokter ahli syaraf Unika Atma Jaya Yuda Turana menunjukkan penderita demensia (kemunduran fungsi otak) seperti penyakit Alzheimer dengan menurunnya daya ingat dan berbicara pada penduduk lanjut usia (lansia) bukan hal mengkhawatirkan. Mereka tetap dapat hidup produktif meski dalam situasi pandemi covid-19 yang banyak memberikan dampak negatif.

Penelitian Yuda berfokus pada perkembangan penyakit Alzheimer (pikun) di tengah situasi pendemi covid-19 yang melanda dunia. Alzheimer merupakan penyakit otak yang menyebabkan kehancuran memori, kebingungan, hingga menurunkan kinerja berpikir serta berbicara si penderita.
Riset Yuda berfokus pada sisi positif penyakit Alzheimer. Sehingga, berhasil menemukan metode penyembuhan yang baik, yaitu dengan program yang mengutamakan promotif dan preventif serta mengurangi terjadinya kasus disabilitas bagi lansia, khususnya pada populasi yang kurang mampu dan terpinggirkan.

“Dengan mengurangi faktor risiko yang berkaitan dengan penyebab penyakit utama dan memaksimalkan peningkatan faktor yang melindungi kesehatan dan kesejahteraan sepanjang hidup, maka penyakit Alzheimer tidak lagi menakutkan. Meskipun terjadi kepikunan dan gangguan fungsi motorik tubuh, namun penderita Alzheimer tetap bisa beraktivitas secara aktif,” papar Yuda dalam pidato Pengukuhan Guru Besar dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 25 Mei 2022. 

Dia menjelaskan kondisi pandemi mendorong perubahan perilaku ke arah tidak sehat. Seperti aktivitas duduk yang memakan waktu lebih lama, kemudian kehidupan sosial lansia menjadi terbatas, stimulasi sosial berkurang, dan berita negatif di media sosial menjadi sumber stimulasi yang mempercepat proses penuaan di otak. 

Perubahan yang dramatis tersebut semakin terasa di saat pandemi covid-19. Guru Besar dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya itu menyebut pandemi covid-19 memberikan multi dampak. 

Salah satunya, memunculkan faktor risiko degeneratif otak secara tidak langsung yang berpengaruh terhadap kerusakan organ dan risiko vaskular. Penyakit Alzheimer, termasuk dalam penyakit degeneratif yang melanda penduduk berusia lanjut (lansia) dan bersifat multi-organ yang meliputi kemunduran struktur dan fungsi otak atau disebut juga demensia. 

Indonesia merupakan salah satu dari delapan negara dengan jumlah lansia terbanyak di dunia. “Dari penelitian ini terbukti bahwa pasien demensia di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan global, dengan cakupan di beberapa kota seperti Yogyakarta, Medan, Jakarta, Bandung, dan Bali. Artinya sesuai dengan prediksi awal, akselerasi peningkatan masalah neurodegenerative atau kehilangan yang progresif terhadap struktur atau fungsi sel neuron jauh lebih besar,“ tutur dia.  

Selain itu, keunggulan penelitian ini adalah membuktikan di umur yang sama lansia dan
pasien demensia mempunyai kualitas lebih buruk terjadi pada yang demensia. Salah satu konsekuensinya adalah kualitas hidup demensia juga akhirnya memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga.

Data Badan kependudukan dan Keluarga berencana (BKKBN) pada 2020 mencatat jumah lansia Indonesia mencapai 26,82 juta jiwa dengan usia 60 tahun hingga di atas 80 tahun. Di seluruh dunia jumlah penderita penyakit Alzheimer diperkirakan mencapai lebih 50 juta orang dan akan bertambah menjadi 100 juta orang pada 2050.

Mendukung hal tersebut, Unika Atma Jaya mendirikan Atma Jaya – Alzheimer Indonesia (ATZI) Center of Excellence hasil kerja sama dengan Alzheimer Indonesia sebagai pusat pelayanan terpadu yang berfokus pada Demensia Alzheimer. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya turut berperan dalam mengembangkan penelitian kesehatan masyarakat.

“Peran lembaga pendidikan tinggi yang cukup penting adalah menghasilkan berbagai hasil penelitian dan kajian yang dapat memberikan manfaat bagi perbaikan standar kehidupan umat manusia. Hal ini menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan posisi tawar dan daya saing suatu bangsa,” kata Rektor Unika Atma Jaya Prasetyantoko. 

Dia mengatakan daya saing saat ini ditentukan inovasi teknologi dan penggunaan pengetahuan secara maksimal. Kemampuan untuk mengembangkan, menghasilkan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan melalui riset yang unggul sangat penting dalam meningkatan competitive advantage suatu bangsa. 

Bahkan, semakin dituntut lebih lagi kemampuan mengkomersialkan hasil riset. Sehingga menambah nilai bagi upaya perbaikan standar hidup maupun pertumbuhan ekonomi bangsa.

Baca: Diderita Dorce Gamalama, Ini 10 Gejala Awal Demensia Alzheimer
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id