Menristek Ajak Perusahaan Swasta Terlibat Produksi Vaksin Merah Putih

    Arga sumantri - 27 Januari 2021 21:02 WIB
    Menristek Ajak Perusahaan Swasta Terlibat Produksi Vaksin Merah Putih
    Menristek Bambang Brodjonegoro. Tangkapan layar Youtube.
    Jakarta: Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengundang perusahaan swasta ikut serta dalam produksi vaksin Merah Putih. Produksi tak bisa dibebankan sepenuhnya kepada PT Biofarma.

    "Biofarma tidak bisa bekerja sendiri, karena itu kami juga akan mengajak perusahaan swasta untuk menambah kapasitas produksi," kata Bambang dalam Rapat Koordinasi Nasional Riset dan Inovasi 2021 di Graha Widya Bhakti Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu, 27 Januari 2021.

    Bambang mengatakan, PT Biofarma ditargetkan memproduksi 250 juta vaksin tahun ini. Kemenristek ingin swasta ikut menambahkan kapasitas produksi tersebut. 

    Menurut Bambang, swasta juga bisa memberikan opsi untuk platform vaksin Merah Putih yang saat ini belum bisa dikerjakan Biofarma. Saat ini, Biofarma baru fokus di dua platform, yaitu inactivated virus dan subunit protein rekombinan. 

    "Tapi untuk (platform) DNA, RNA, maupun adenovirus, membutuhkan investasi baru yang kita harapkan bisa dikerjakan swasta," ujarnya.

    Baca: Uji Klinis Vaksin Merah Putih Paling Cepat Pertengahan Tahun Ini

    Saat ini, sudah ada enam pihak yang terdiri dari lembaga dan perguruan tinggi, sedang mengembangkan bibit vaksin covid-19 Merah Putih. Mereka yakni Lembaga Bio Molekuler (LBM) Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

    Enam lembaga tersebut mengembangkan vaksin Covid-19 dengan metode yang berbeda. Eijkman mengembangkan dengan platform protein rekombinan, UI dengan platform DNA, MRNA, dan virus like particle (VLP).

    Sementara, UNAIR menggunakan platform adenovirus, ITB juga adenovirus. Lalu, UGM menggunakan protein rekombinan dan LIPI juga dengan protein rekombinan.

    Bambang menekankan, lembaga riset dan perguruan tinggi hanya berperan dalam menemukan bibit vaksin. Proses selanjutnya dilakukan perusahaan farmasi. 

    Setelah penemuan bibit vaksin, perusahaan farmasi melakukan purifikasi, lalu scaling up dari bibit vaksin dan uji preklinik. Setelahnya, baru bisa melakukan uji klinis. Dalam uji klinis pun terdapat persyaratan, antara lain harus memiliki ethical clearance hingga izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

    "Jadi memang kendali waktu, setelah kami menyerahkan bibit vaksin. Katakan sekitar bulan Maret itu akan lebih banyak di sisi manufacturing," ujar Bambang.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id