Peneliti: Karantina Wilayah, Skenario Terbaik untuk Meredakan Pandemi

    Citra Larasati - 10 April 2020 09:09 WIB
    Peneliti:  Karantina Wilayah, Skenario Terbaik untuk Meredakan Pandemi
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta:  Belasan peneliti dari sejumlah perguruan tinggi yang tergabung dalam SimcovID Team merilis penelitian terbaru terkait fenomena pandemi covid-19 di Indonesia.  Salah satu hasilnya menyatakan, kebijakan karantina wilayah yang disertai dengan rapid-test merupakan skenario terbaik yang dapat dipilih pemerintah jika ingin meredakan pandemi dengan lebih cepat.

    Hasil tersebut berdasarkan kajian proyeksi waktu puncak dan jumlah kasus kematian dari skenario kebijakan pemerintah.  Tim SimcovID membagi terlebih dahulu jenis skenario yang akan dikaji ke dalam tiga pilihan, yaitu tanpa kebijakan, kebijakan memperketat social/physical distancing, dan karantina wilayah. 

    Selain itu, peneliti juga menambahkan faktor waktu penerapan kebijakan dan waktu pelaporan atau waktu konfirmasi kasus sebagai faktor kualitatif lainnya.  Dari hasil model tersebut, diyakini bahwa fenomena pandemi di Indonesia dapat mereda lebih cepat serta lebih sedikit kasus kematiannya jika pemerintah menerapkan pilihan skenario karantina wilayah yang diikuti dengan melakukan rapid-test, dan segera memulai kebijakan-kebijakan tersebut.

    Baca juga:  Dua Laboratorium Milik UGM Digunakan Uji PCR Covid-19

    “Segala bentuk pekerjaan yang kami lakukan dalam membangun model dan menghasilkan analisa hanya didasarkan pada sikap sukarela. Kami tidak punya tujuan lain selain ingin mengerjakan apa yang sudah menjadi bagian dari profesi kami yaitu menghasilkan publikasi ilmiah. Namun, tentunya kami akan senang jika apa yang kami kerjakan dapat membantu bagi yang membutuhkan,“ kata Nuning Nuraini, S. Si, M.Si., salah satu peneliti Matematika Epidemiologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dikutip dari laman ITB, Jumat, 10 April 2020.

    Untuk diketahui, Tim SimcovID terdiri dari belasan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di antaranya ITB, Unpad, UGM, ITS, UB, Undana, bahkan termasuk peneliti perguruan tinggi luar negeri asal Indonesia, yaitu Essex & Khalifa University, University of Southern Denmark, dan Oxford University.

    Dalam penelitian tersebut, Nuning beserta tim mencoba menjawab permasalahan-permasalahan yang lebih kompleks dan spesifik dengan pendekatan model yang lebih reaslistik.   Dalam kajian ilmiah yang mereka rancang, Nuning dan Tim SimcovID berusaha untuk menjawab setidaknya tiga rumusan masalah.

    Pertama, lewat model SEIRQD (Suceptible-Exposed-Quarantine-Recovery-Death) ingin menghasilkan analisa terkait estimasi kepadatan kasus covid-19 per 100.000 jumlah penduduk.  Model ini ingin menunjukkan seberapa besar perkiraan kasus yang tidak terdeteksi dari provinsi-provinsi di Indonesia.

    Kedua, menggunakan metode Extended Kalman Filter.  Tim SimcovID berusaha untuk memberikan nilai Ro yang tepat bagi kejadian di Indonesia.

    Lalu, terakhir, Nuning dan rekan-rekan menyiapkan proyeksi waktu puncak dan jumlah kasus kematian dari beberapa skenario kebijakan pemerintah yang mungkin akan dilaksanakan dalam menghadapi situasi pandemi ini.  Skenario karantina wilayah yang disertai dengan melakukan rapid test covid-19, dan memulainya dengan segera untuk mempercepat berakhirnya pandemi merupakan bagian dari rumusan ketiga yang dikaji Tim SimcovID tersebut.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id