Mahasiswa Unpad Gagas Plastik Ramah Lingkungan Pembungkus Jenazah Covid-19

    Citra Larasati - 15 Oktober 2020 12:55 WIB
    Mahasiswa Unpad Gagas Plastik Ramah Lingkungan Pembungkus Jenazah Covid-19
    Tiga mahasiswa Unpad yang menggagas plastik ramah lingkungan untuk pembungkus jenazah covid-19. Foto: Dok. Unpad
    Jakarta:  Proses pemulasaran jenazah pasien covid-19 menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Salah satunya adalah membungkusnya dengan plastik untuk mencegah tidak adanya cairan yang keluar dari jenazah.

    Sayangnya, hal ini menjadi persoalan tersendiri bagi kelestarian lingkungan.  Pembungkusan jenazah menggunakan plastik menjadi masalah tersendiri, mengingat plastik merupakan komponen yang sulit diurai dalam tanah.

    Butuh waktu paling cepat 100 tahun agar plastik bisa terurai. Jika kematian covid-19 terus bertambah, ini berpotensi meningkatkan pencemaran lingkungan.

    Menyiasati hal tersebut, tiga mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Adira Rahmawaty, Muhammad Ilfadry Rifasta, dan Salsa Sagitasa, mengembangkan gagasan plastik ramah lingkungan (biodegradable) dari bahan pati singkong untuk membungkus jenazah pasien covid-19.

    Adira mengungkapkan, pati singkong terbukti sebagai bahan plastik yang paling bagus dan mudah terurai. Hal ini diperoleh berdasarkan tinjauan dari sejumlah literatur dari jurnal penelitian yang telah ada.

    Plastik pati singkong akan terurai dalam waktu 12 hari untuk ukuran 1 milimeter. "Jika asumsi penggunaan plastik untuk membungkus jenazah adalah sebesar dua meter persegi, waktu yang diperlukan untuk terurai di tanah hanya enam bulan," terang Adira dalam siaran pers, Kamis, 15 Oktober 2020.

    Berdasarkan gagasan Adira dan tim, pembuatan plastik pati singkong untuk membungkus jenazah covid-19 hampir sama dengan pembuatan plastik ramah lingkungan pada umumnya.

    Pati singkong dicampur dengan sejumlah komposisi kitosan sebagai plasticizer.  "Campuran kemudian dipanaskan dalam suhu tinggi sehingga menjadi tercampur dan cair," terangnya. 

    Cairan ini dituangkan ke dalam cetakan dan dikeringkan dalam oven selama 24 jam. Lalu, material kemudian didinginkan oleh desikator dan dibiarkan sampai terbentuk film plastiknya.

    Indonesia sendiri sudah ada produk plastik ramah lingkungan berbahan pati singkong dan sudah digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Namun, kata Adira, plastik tersebut rata-rata rapuh dan mudah sobek.

    Baca juga:  Empat Kelompok Prioritas yang Mendapat Vaksin Covid-19

    Karena itu, dalam gagasannya Adira dan tim menambahkan zat tambahan untuk menutupi kelemahan plastik ramah lingkungan tersebut. Zat tambahan yang digunakan dalam komposisi kitosan antara lain gliserol, sorbitol, aloe vera, dan minyak kayu manis.

    Gagasan ilmiah Adira dan tim ini berhasil menyabet juara III pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Online Tingkat Nasional (LKTI OTN) 2020 yang digelar Universitas Brawijaya dari 6 Mei hingga 8 September 2020 lalu.

    Dengan dosen pembimbing, Aliya Nur Hasanah M.Si, Adira dan tim berhasil meraih juara III pada kategori LKTI Agrokompleks.  Meski masih berupa gagasan ilmiah, Adira berharap dapat dilakukan pengujian lebih jauh di laboratorium.

    “Harapan kami tentunya bisa dilakukan penelitian lebih lanjut dan bisa diimplementasikan untuk mengurangi kerusakan lingkungan,” kata Adira.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id