comscore

Mahasiswa Unsoed Bagikan Ilmu Pengolahan Tepung Kulit Ari Kedelai dari Limbah Tempe

Arga sumantri - 19 Oktober 2021 12:32 WIB
Mahasiswa Unsoed Bagikan Ilmu Pengolahan Tepung Kulit Ari Kedelai dari Limbah Tempe
Produk hasil olahan limbah tempe. Foto: Dok Humas Unsoed.
Purwokerto: Tempe merupakan salah satu pangan yang sering dikonsumsi, khususnya oleh masyarakat Banyumas. Terdapat beberapa sentra produsen tempe di Banyumas, salah satunya adalah Desa Pliken.

Desa Pliken terletak di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2019), jumlah pengrajin tempe di Desa Pliken sebanyak 368 orang, dengan total kedelai yang digunakan dalam sebulan sekitar 55 ton (Data Desa Pliken, 2021).
Dalam industri tempe, dihasilkan limbah berupa kulit ari kedelai sebanyak 10 persen dari total kedelai yang digunakan. Limbah ini mengandung zat gizi seperti energi sebanyak 3060,48 kkal/kg, protein 14,45 persen, lemak 3,15 persen, dan serat pangan 47,01 persen (Rohmawati et al., 2015). 

Akan tetapi, pemanfaatan limbah kulit ari kedelai dapat dikatakan masih kurang maksimal karena rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan limbah kulit ari kedelai.

Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yaitu Syifa Ulhusna, Dwi Febrianti, Tri Silfi Salihatin, dan Putri Fajriatin Qona’ah berinisiatif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Pliken dalam pemanfaatan limbah kulit ari kedelai melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM). Mereka didampingi dosen Nur Aini dari program studi S1-Teknologi Pangan.

Baca: Inovasi Unsoed, Desain Vaksin Measles Rubella Baru Berbasis Peptida Multiepitop

Mereka mengadakan sosialisasi dan pelatihan pengolahan limbah kulit ari kedelai menjadi produk tepung kulit ari kedelai dengan mitra Ibu PKK di Desa Pliken.

Syifa Ulhusna mengatakan bahwa proses pembuatan produk ini dimulai dengan pencucian limbah kulit ari kedelai sebanyak dua kali dengan air hingga bersih. Kemudian, diperas dan diratakan pada tampah, setelah itu dilanjutkan dengan tahapan penjemuran dengan sinar matahari langsung selama 1-2 hari bergantung pada cuaca hingga dihasilkan kulit ari kedelai yang kering. 

Proses selanjutnya ialah penggilingan menggunakan grinder, kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh untuk menghasilkan tepung dengan tekstur halus. 

"Penyangraian dilakukan dengan penambahan daun pandan untuk memperpanjang umur simpan produk dan mengurangi aroma langu pada tepung," ungkap Syifa dikutip dari siaran pers Unsoed, Selasa, 19 Oktober 2021.

Baca: Mahasiswa Unpad Gagas Platform Pelatihan Perikanan Daring

Ia menjelaskan, tepung kulit ari kedelai (Tengkulai) dapat diaplikasikan menjadi berbagai produk olahan. Salah satu produk yang sudah dihasilkan ialah Sajulai (Sagu Keju Tengkulai) dan Pisulai (Pie Susu Tengkulai). 

Produk olahan dari tepung kulit ari kedelai umumnya memiliki ciri khas berupa tekstur menyerupai biskuit gandum, sehingga dapat digunakan sebagai pengganti biskuit gandum bagi yang alergi gluten. Dengan adanya produk olahan dari tepung kulit ari kedelai, menjadikan program pelatihan ini dapat memberi manfaat untuk membuka wirausaha baru karena adanya penambahan nilai ekonomi limbah kulit ari kedelai. 

"Manfaat ini telah dirasakan oleh salah satu mitra program PKM-PM (Ibu PKK Desa Pliken) yang sudah memasarkan produk dan berhasil mendapat profit," jelasnya.

(AGA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id