Nyamuk ber-Wolbachia Turunkan Angka DBD Secara Dramatis

    Citra Larasati - 04 September 2020 07:07 WIB
    Nyamuk ber-Wolbachia Turunkan Angka DBD Secara Dramatis
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta:  Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pemerintah Kota Yogyakarta berencana memperluas manfaat nyamuk ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan mengingat pengembangbiakan dan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta diklaim mampu menekan kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) secara drastis.

    Perluasan manfaat ini merupakan hasil kerja sama Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM dengan Word Mosquito Program (WMP), Yayasan Tahija dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

    Coprincipal Investigator WMP, Riris Andono Ahmad menyebut dari penelitian yang dilakukan menunjukkan nyamuk ber-Wolbachia efektif menurunkan 77 persen kejadian demam berdarah di daerah intervensi, dibandingkan dengan daerah pembanding.  Penelitian ini dilakukan Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM sejak 2017.

    Penelitian dilakukan dengan cara melepaskan nyamuk Aedes aegypti yang sudah terinfeksi bakteri Wolbachia dalam skala besar di Kota Yogyakarta. Penelitian dilakukan di daerah intervensi dibandingkan dengan daerah pembanding.

    "Jadi, Yogyakarta dulu itu dibagi 24 klaster, 12 wilayah dibagi Wolbachia, 12 tidak diberi," kata Riris dalam keterangannya, Kamis, 3 September 2020.

    Baca juga:  Perkembangan Teknologi Wolbachia UGM Mulai Menunjukkan Hasil

    Menurutnya, bakteri Wolbachia memiliki kemampuan mengendalikan replikasi virus dengue. Karenanya di saat nyamuk menghisap darah yang mengandung virus dengue maka virus tidak bisa mereplikasi di dalam tubuh nyamuk.

    “Implikasinya virus dengue tak dapat ditularkan ke orang lain. Disamping itu, bakteri Wolbachia menurun ke generasi berikutnya," jelasnya.

    Ia menambahkan sudah ada 12 kecamatan di Yogyakarta yang disebar nyamuk ber-Wolbachia. Dengan kegiatan itu maka bertambah lagi dua kecamatan untuk program eliminasi Aedes aegypti.

    "Kemungkinan nantinya kita juga akan melakukan di Sleman," tambahnya.

    Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menyebut, kejadian DBD di Kota Yogyakarta pada 2016 silam mencapai 1.700-an kasus. Pasca kegiatan pengendalian DBD dengan metode Wolbachia bersama Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dan Yayasan Tahija Jakarta kasus menurun dramatis.

    "Tahun kemarin hanya tinggal sekitar 200-300an, jadi turunnya drastis. Harapan kami memang kalau nanti semua wilayah di Kota Yogyakarta sudah ber-Wolbachia semua nyamuknya, Insyaallah semakin rendah (DBD)," harapnya.

    Meski dengan menggunakan teknologi Wolbachia mampu menurunkan angka kasus DBD, kata Heroe, warga harus tetap menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, dan secara rutin menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) agar terbebas dari DBD dan penyakit lainnya.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id