Mahasiswa Unair 'Sulap' Limbah Udang Jadi Chitomask si Masker Antivirus

    Citra Larasati - 22 Juli 2021 08:09 WIB
    Mahasiswa Unair 'Sulap' Limbah Udang Jadi Chitomask si Masker Antivirus
    Chitomask, masker antibakteri dan antivirus karya mahasiswa Unair. Foto: Dok. Unair



    Jakarta:  Lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menghadirkan inovasi Chitomask yaitu produk masker kain filter antibakteri dan antivirus yang ramah lingkungan.  Masker ini terbuat dari limbah kulit udang.

    Atas ide itu, kelima mahasiswa lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan mendapatkan pendanaan dari Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun ini.

     



    Kelima mahasiswa itu adalah Reza Istiqomatul Hidayah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK 2017), Muhammad Rizky Widodo dan Salsabila Farah Rafidah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM 2018). Ada pula Ardelia Bertha Prastika mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK 2019) dan Firman Hidayat mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST 2019).

    Sebelum mendapat pendanaan ini, mereka berlima kerap menjuarai ajang kompetisi hingga pernah meraih medali silver pada skala internasional.  Dilansir dari laman instagram Chitomask, varian covid-19 lebih menular sehingga diperlukan proteksi lebih.

    Dalam hal ini, Chitomask bisa memberikan proteksi tambahan dengan filternya yang memiliki kemampuan antivirus dan antibakteri. Terutama komposisi bahannya yang biodegradable atau mudah terurai secara alami sehingga bisa meminimalkan limbah masker saat pandemi. Tentunya dengan model yang trendi. 

    Senada dengan itu, Ardelia Bertha Prastika selaku CEO mengatakan bahwa produknya bisa terurai dalam kurun waktu yang pendek. “Chitomask ini tidak merusak lingkungan, untuk terurainya pun paling lama satu bulan,” ucapnya.

    Baca juga:  Tak Ada Chip, Ini Kandungan Vaksin Covid-19

    Dalam prosesnya, Ardelia mengaku tahap praproduksi dan produksi membutuhkan waktu lima hari. Sebelum PKM mereka didanai, kelima mahasiswa ini sudah meneliti kain apa yang compatible untuk filter.

    "Jadi prosesnya kitosan (limbah kulit udang) dibuat gel terlebih dahulu hingga menunjukkan warna bening dan konsentratnya mengental.  Jika dihitung dari tahapan pembuatan gel hingga coating itu tiga hari. Sedangkan produksi filter memakan waktu dua hari, hari pertama pelarutan kitosan dan hari kedua pengovenan,” imbuh Ardel dikutip dari laman Unair.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id