GeNose UGM Diharapkan Bisa Gantikan Uji Swab PCR

    Citra Larasati - 18 September 2020 13:08 WIB
    GeNose UGM Diharapkan Bisa Gantikan Uji Swab PCR
    GeNose inovasi UGM untuk alat deteksi covid-19 dengan menggunakan embusan napas. Foto: Dok. UGM
    Jakarta:  Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Ali Ghufron Mukti, mengapresiasi peneliti UGM yang turut serta mengembangkan beberapa alat kesehatan seperti alat deteksi covid-19 lewat embusan napas atau GeNose.  Ia menyebut GeNose sebagai inovasi yang sangat bagus dan ke depan diharapkan dapat menggantikan peran uji swab atau polymerase chain reaction (PCR).

    Ghufron secara khusus menyinggung soal deteksi covid dari embusan nafas ini yang menurutnya merupakan hasil inovasi yang cukup bagus. Alat ini diharapkan bisa menggantikan peran uji PCR.

    “Semoga bisa mengganti PCR. Saat ini ada tiga negara yang sudah mengembangkannya, yakni Amerika, Israel, dan Indonesia,” kata Ghufron dalam webinar Pameran Inovasi Kesehatan FKKMK UGM, seperti dikutip siaran pers, Jumat, 18 September 2020.

    Sehubungan dengan pengembangan Vaksin Merah Putih, ia mengatakan UGM dan banyak perguruan tinggi lain juga ikut terlibat.  Pengembangan vaksin yang bahan bakunya berasal dari virus yang ada di Indonesia ini diharapkan bisa mendorong kemandirian bangsa dalam memproduksi vaksin.

    “Kita ingin kekebalan populasi terbangun secara terukur dan sistematis, sehingga kita sendiri yang harus kembangkan,” katanya.

    Ia memperkirakan, apabila setiap orang nantinya mendapat suntikan dua kali dosis vaksin, butuh 350 juta vaksin. “Jika harganya rata-rata Rp200 ribu maka diperlukan Rp70 triliun untuk biaya vaksin,” katanya.

    Baca juga:  GeNose UGM, Deteksi Covid-19 Lewat Embusan Napas

    Sementara itu, Prof Triwibowo, anggota tim pengembangan inovasi rapid test berbasis antibodi dari FKKMK UGM, mengatakan alat diagnostik cepat yang dikembangkan tim mereka  merupakan hasil kolaborasi peneliti UGM dengan Universitas Airlangga.

    “Alat rapid test untuk diagnosis non-PCR berbasis antibodi, sehingga bisa dilakukan lebih cepat di lapangan, memberikan advokasi ke pemangku kepentingan, bahkan bisa melakukan prevalensi,” katanya.

    Meski sudah mulai diproduksi dan diuji di beberapa tempat, tapi menurutnya proses hilirisasinya ke masyarakat ternyata tidak mudah. Hal ini terkendala persoalan regulasi dan administrasi.

    “Meski sudah ada relaksasi kebijakan, tapi implementasi di lapangan ternyata belum banyak berubah,” imbuhnya

    Peneliti ventilator UGM, dr Bowo Adiyanto mengatakan pihaknya berhasil mengembangakan ventilator untuk pasien covid-19 yang kritis. Selain membantu pasien agar tetap bisa bernapas, daya kerja ventilator merek V-01 ICU Ventilator ini juga menyesuaikan kemampuan napas si pasien.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id