Ogah Bergantung Vaksin Impor, Pemerintah Kebut Vaksin Merah Putih

    Ilham Pratama Putra - 14 Oktober 2020 18:17 WIB
    Ogah Bergantung Vaksin Impor, Pemerintah Kebut Vaksin Merah Putih
    Ilustrasi vaksin. Medcom.id
    Jakarta: Indonesia harus bisa membuat vaksin secara mandiri meskipun saat ini ada vaksin dari luar negeri yang segera siap untuk diberikan ke masyarakat. Sebab jika hanya mengharapkan vaksin dari luar negeri, maka kebutuhan vaksin di Indonesia baru akan tercukupi dalam waktu tujuh tahun ke depan.

    Perhitungan ini diungkap oleh Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio. Dengan asumsi kapasitas vaksin dunia hanya akan mencukupi kurang dari setengah populasi manusia di bumi.

    "Karena kapasitas produksi di dunia pun hanya kurang lebih separuh dari jumlah penduduk dunia, hanya sekitar tiga miliar vaksin untuk tujuh miliar penduduk," kata Amin dalam diskusi daring "Vaksin Merah Putih: Tantangan dan Harapan", Rabu, 14 Oktober 2020.

    Dengan begitu, dia memprediksi hanya ada satu juta dosis untuk Indonesia dalam satu pekan. Sementara, setidaknya 173 juta warga Indonesia harus divaksinisasi.

    "Memvaksinasi 173 juta orang ini, di mana satu orang harus divaksinasi dua kali, berarti butuh 350 juta dosis. Kalau satu minggu cuma ada satu juta dosis, maka kita butuh waktu 350 minggu. Artinya tujuh tahun baru selesai program vaksinasinya. Itu kalau kita tergantung ke vaksin luar negeri," ungkap Amin.

    Baca juga:  Eijkman: 45% Penduduk Indonesia Bersedia Diberi Vaksin Merah Putih

    Untuk itu, pihaknya terus mengebut pengembangan vaksin covid-19 dalam negeri. Yakni vaksin Merah Putih yang dikembangkan oleh Eijkman bersama PT Bio Farma hingga perusahaan farmasi asal Tiongkok Sinovac.

    Amin mengatakan, pengembangan vaksin covid-19 Merah Putih saat ini sudah mencapai 55 persen. Dia berharap bibit vaksin sudah bisa diuji praklinis pada akhir tahun.

    "Uji ke hewan bulan depan kalau semua lancar. Sehingga akhir tahun sudah selesai," terangnya.

    Nantinya di awal tahun bibit vaksin itu bisa diserahkan kepada perusahaan Bio Farma untuk uji klinis lanjutan.  Dalam proses tersebut akan ada uji kinis tahap satu, dua, dan tiga.

    Dia memastikan vaksin yang dikembangkan oleh pihaknya ini bakal cocok dengan masyarakat Indonesia. Pasalnya vaksin yang dibuat mengambil sampel virus yang ada di Indonesia.

    "Jadi vaksin dikembangkan menggunakan virus yang bersikulasi di Indonesia, kemudian penelitiannya ada di Indonesia oleh institusi yang ada di Indonesia, oleh para peneliti Indonesia, dan untuk rakyat Indonesia. Jadi memang dari, oleh, dan untuk Indonesia," tutup Amin.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id