Analisis Pakar ITS Terkait Maraknya Bencana di Indonesia

    Arga sumantri - 27 Januari 2021 10:06 WIB
    Analisis Pakar ITS Terkait Maraknya Bencana di Indonesia
    Pakar dari Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Rita Noviani . Dok Humas ITS.



    Surabaya: Awal tahun ini, banyak bencana yang melanda wilayah Indonesia. Sebut saja gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir yang menerjang Kalimantan Selatan, Sumedang, dan Bogor, belum lagi erupsi Gunung Merapi dan Gunung Semeru. 

    Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang 2020 terjadi 2.929 bencana alam di Indonesia. Banjir menduduki tempat tertinggi, yakni sebesar 1.067 kasus. Jumlah tersebut disusul bencana puting beliung yang mencapai 875 kasus dan diakhiri oleh erupsi sebanyak tujuh kasus.




    Pakar dari Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Rita Noviani menyebut Indonesia memang etalase bencana. Ini lantaran tingginya kompleksitas bencana di Indonesia mulai dari tsunami, gempa bumi, banjir, hingga erupsi.

    "Indonesia berada di Ring of Fire, pertemuan tiga lempeng, ada di garis khatulistiwa, belum lagi perubahan iklim dan ekologis akibat penggundulan hutan. Itulah yang mengakibatkan banyak bencana," ujar Rita, mengutip laman ITS, Rabu, 27 Januari 2021.

    Ia mengatakan, kurangnya kesadaran masyarakat mengenai kondisi geografis sekitar juga menjadi penyebab banyaknya korban material dan jiwa yang terjadi akibat bencana. Dosen Pendidikan Geografi FKIP UNS tersebut mencontohkan, masyarakat tidak tahu kalau tinggal di daerah patahan atau sesar yang sewaktu-waktu akan aktif.

    Baca: Pakar UGM Ingatkan Ancaman Resistensi Antimikroba

    Ada pula faktor kebijakan pemerintah. Pemberian konsesi lahan dari pemerintah juga memicu terjadinya bencana. Salah satu contohnya, pembukaan lahan hutan membuat air hujan yang turun tidak diserap oleh akar-akar pohon sehingga turun ke daerah hilir menjadi air permukaan dan menimbulkan banjir.

    "Harus ada komitmen dari pemerintah untuk mengatasi dampak perubahan lingkungan. Pembangunan ekonomi perlu diselaraskan dengan pembangunan sosial dan lingkungan," jelasnya.

    Pusat Studi Bencana LPPM UNS turut mengambil langkah dalam urusan kebencanaan. Langkah yang diambil yakni penguatan kapasitas masyarakat dengan membina komunitas-komunitas masyarakat peduli bencana.

    "Kami mendampingi komunitas seperti Kampung Tanggap Bencana (Katana) dan Kampung Siaga Bencana (Kasiba) untuk menguatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mengajak masyarakat beradaptasi dengan lingkungan yang ada," ungkapnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id