IPB Teliti Obat Hipertensi dari Pegagan Hingga Kumis Kucing

    Citra Larasati - 09 Juli 2020 07:07 WIB
    IPB Teliti Obat Hipertensi dari Pegagan Hingga Kumis Kucing
    Prof Dyah Iswantini Pradono, peneliti sekaligus dosen Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB. Foto: IPB/Humas
    Jakarta:  Tanaman pegagan, kumis kucing, dan tempuyung memiliki kandungan senyawa kimia seperti flavonoid yang berpotensi menghambat tekanan darah tinggi (hipertensi). Kandungan inilah yang diteliti Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menjadi antihipertensi.

    Prof Dyah Iswantini Pradono, peneliti sekaligus dosen Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB mengatakan, penelitian dari hulu ke hilir untuk antihipertensi telah dilakukan sejak 2007 sampai sekarang.

    Hasil-hasil penelitian Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB University telah menghasilkan kandidat formula antihipertensi.  Formula ini terdiri dari ekstrak pegagan, kumis kucing dan tempuyung. Hasil ini telah dilengkapi dengan usaha menemukan teknik budidaya pegagan berbasis bahan aktif sebagai antihipertensi (flavonoid).

    Proses pembuatan komposisi obat herbal antihipertensi diperoleh dengan cara mengekstrak seluruh bagian tanaman atau herba pegagan, tempuyung, bagian daun dan batang kumis kucing dengan metode tertentu," kata Dyah dalam keterangannya, Kamis, 9 Juli 2020.

    Baca juga:  Peneliti UGM Kembangkan Alat Pencegah Covid-19 pada Gagang Pintu

    Tanaman pegagan, kumis kucing dan tempuyung merupakan tanaman yang mudah sekali tumbuh di alam. Hasil survei ketersediaan bahan baku menunjukkan bahwa seluruh bahan baku penyusun formula antihipertensi ini cukup tersedia di petani atau pengepul tanaman obat.

    Maka simplisia ketiga tanaman tersebut tersedia di penyedia jamu terutama di Jawa Tengah dan tempat-tempat lainnya.

    Saat ini sedang dilakukan penelitian untuk mencapai target komersialisasi Obat Herbal Terstandar yang berkerja sama dengan PT Biolife Indonesia. Setelah dikomersialkan maka dapat dikonsumsi oleh masyarakat secara luas.

    "Hal ini merupakan usaha meningkatkan nilai tambah biodiversitas Indonesia yang menjadi sediaan, bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya,” ujarnya.

    Harapannya, setelah dihasilkan produk komersial antihipertensi berbahan herbal, masyarakat mulai terbiasa mengonsumsi obat herbal yang berbasis tanaman obat asli Indonesia. Selain itu, upaya ini juga untuk meminimalisir efek samping seperti yang selama ini dihasilkan dari konsumsi obat kimia, meningkatkan kontribusi Indonesia dalam produksi dan konsumsi obat herbal.

    "Selain itu juga meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai penghasil obat herbal dan meningkatkan nilai tambah tanaman obat Indonesia menjadi produk yang lebih bermanfaat bagi kesehatan manusia," pungkasnya.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id