Dosen UNS Ubah Limbah Popok Jadi Peredam Suara Ruangan

    Arga sumantri - 14 Mei 2020 13:19 WIB
    Dosen UNS Ubah Limbah Popok Jadi Peredam Suara Ruangan
    Dosen Ilmu Lingkungan FMIPA UNS Surakarta, Prabang Setyono. Dok Humas ITS
    Surakarta: Dosen Ilmu Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prabang Setyono, mengubah limbah popok sekali pakai (Pospak) menjadi teknologi tepat guna dan bernilai ekonomi lebih tinggi. Ia membuat sebuah prototipe panel akustik atau peredam suara dalam ruang berbahan utama Pospak.

    Penelitian dilakukan selama delapan bulan sejak 2018. Mulanya, Prabang mengaku resah dengan keberadaan limbah Pospak yang sulit terurai dan dalam jumlah besar di Indonesia. Selain itu, ia juga menyoroti pola kebiasaan impor peredam suara atau panel akustik berbahan glasswool di Indonesia yang memiliki harga cukup mahal.

    Padahal, kata dia, bidang industri membutuhkan peredam suara dengan harga terjangkau, efektif, dan sebisa mungkin berbahan dasar lokal atau tidak perlu impor. Sebab, impor lambat laun akan menimbulkan ketergantungan.

    "Kemudian saya berpikir sumber daya apa yang melimpah di kita. namun belum dimanfaatkan dengan maksimal. Sebagai orang lingkungan, saya juga berpikir dari aspek lingkungan dan bagaimana mengurangi waste atau limbah. Ketemulah Pospak ini," kata Prabang mengutip laman UNS, Kamis, 14 Mei 2020.

    Prabang mengkalkukasi, seorang bayi bisa menghabiskan sekitar 4.000 Pospak sejak lahir hingga mampu buang air di toilet secara mandiri pada usia tiga tahun. Berdasarkan data dari katadata.co.id, kata dia, jumlah bayi usia 0-3 bulan di Indonesia mencapai 23.729.600 pada 2018. Jika 50 persen dari jumlah tersebut menggunakan Pospak, maka jumlah limbah Pospak di Indonesia sangatlah besar.

    "Pembuangan Pospak itu masih sering sembarangan, misal di sungai. Semakin terendam di air, Pospak semakin sulit diurai terutama gel di dalamnya. Bisa sepuluh tahun terawetkan. Itu juga dapat mengganggu kesehatan air sungai," ujarnya.

    Baca: Unpad Teliti Manfaat Lengkuas Hingga Sirih untuk Covid-19

    Pospak memang mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42 persen, yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air. Apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan. Bahkan, meskipun dihilangkan dengan cara dibakar, gel di dalam Pospak tidak dapat terbakar dengan baik.

    Selain karena jumlah limbahnya yang besar, Pospak dipilih karena memenuhi kriteria bahan baku peredam suara atau panel akustik. Pertama, Pospak berbentuk serabut-serabut. Kemudian memiliki celah pada bubuk-bubuk di dalamnya yang bertumpuk.

    "Gelombang suara akan lebih mudah diredam atau diresapkan apabila celahnya bertumpuk-tumpuk. Ini lebih efektif daripada yang datar (flat)," terangnya.

    Pospak yang notabene untuk buang air, tentu setelah dipakai mengandung bakteri dan beragam kuman bawaan dari hasil ekskresi tubuh. Hal ini pun menimbulkan aroma tidak sedap. Maka dalam proses pembuatannya, harus terlebih dahulu dilakukan desinfektan dengan cairan clorin kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari supaya mikroba infeksinya hilang.

    Tetapi, bagaimanapun, Pospak memiliki kesan kurang apik dan estetis untuk menjadi peredam suara interior ruangan. Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilmu Lingkungan UNS ini pun memanfaatkan kertas daur ulang yang biasa digunakan untuk tempat menaruh telur sebagai luaran atau casing-nya.

    "Bentuknya itu kan berlekuk-lekuk, ini sangat bagus untuk meredam suara. Secara estetikanya juga bagus. Tapi karena ini masih prototipe, maka belum terlalu rapi pengemasannya," jelasnya.

    Prabang menggandeng Hary Setianto dari Teknik Industri untuk menyusun strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan industri hingga ke hilir atau masyarakat. Ia juga berencana melakukan penelitian payung bersama mahasiswa untuk terus mengembangkan produk ini.

    "Mahasiswa nanti dapat meneliti dimensi atau bentuknya agar tidak melulu berbentuk persegi. Atau bisa juga casing selain kertas daur ulang,” ucapnya.

    Bagi Prabang, penelitian dan karya ini juga sebagai lingkaran ekonomi. Artinya, bagaimana mendaur ulang limbah tanpa nilai menjadi teknologi tepat guna dan ramah lingkungan yang dapat bernilai jual tinggi.

    Ia berharap produk ini dapat menggantikan peredam suara sintetis dari gipsum dan peredam suara glasswool yang selama ini beredar di pasaran dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, pemulung yang juga berperan dalam pengumpulan bahan, dapat meningkat penghasilannya.

    Prabang mengatakan produk ini masih dalam tahap sosialisasi prototipe dan pengajuan proposal pendanaan penelitian lebih lanjut. Ia berharap hasil penelitiannya ini bisa segera difabrikasi dan dapat sampai ke masyarakat. 

    "Sehingga bermanfaat bagi masyarakat dalam skala besar. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dulu," ujarnya



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id