comscore

Sejarah Istilah Nusantara, Nama Bagi IKN Baru

Arga sumantri - 20 Januari 2022 14:24 WIB
Sejarah Istilah Nusantara, Nama Bagi IKN Baru
Desain Istana Kepresidenan di Ibu Kota Baru. Foto: Instagram Nyoman Nuarta.
Yogyakarta: Pemerintah resmi memberi nama Nusantara untuk calon ibu kota negara (IKN). Pemilihan nama Ibu Kota Negara baru di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur ini menuai pro dan kontra di masyarakat.

Namun demikian, pemilihan kata Nusantara tentu menjadi kajian mendalam. Bahkan, kata Nusantara sudah dikenal sejak lama di era masa kerajaan Singosari dan Majapahit. 
Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Arif Akhyat menyatakan kata Nusantara bukan hanya muncul pada masa Majapahit. Tapi, sejak masa kerajaan Singasari sudah digunakan untuk merujuk wilayah pulau luar.

"Nusantara dibedakan dengan dvipantara yakni dvipa yang artinya Jawa," kata Arif mengutip siarna pers UGM, Kamis, 20 Januari 2022.

Baca: 4ICU 2021, UGM Jadi Kampus Paling Populer di Media Sosial

Ia menjelaskan Nusantara pada masa Majapahit merupakan konsep geopolitik untuk mengidentifikasi suatu wilayah yang meliputi Bali, Malayu, Madura dan Tanjungpura. Keempat wilayah itu juga termasuk wilayah Singapura, Malaysia. 

Nusantara juga untuk mengidentifikasi wilayah Sumatra, Borneo, Sulawesi dan Maluku, Lombok, Timor. Bahkan, pengaruhnya sampai Champa, Cambodia, Annam dan Siam. Jadi secara geografis, Nusantara lebih luas dari apa yang sekarang disebut Indonesia. 

"Dengan sedikit ulasan tadi sebenarnya, Nusantara, bukan Jawa tetapi justru merujuk luar Jawa," kata Arif.

Dosen Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ini menilai kata Nusantara untuk penamaan suatu wilayah tidak mengandung perspektif negatif atau positif. Ia hanya sebuah nama untuk menyebut wilayah di luar Jawa. 
 
 

"Jika diberikan nama itu untuk IKN ya itu soal nama. Tetapi bagaimana tafsir nama itu digunakan sebagai kebijakan politik untuk pemerataan, keseimbangan, keadilan pembangunan," ungkapnya.

Ia menilai inti pemindahan IKN bukan soal nama, namun seberapa jauh persiapan yang dilakukan dengan berbagai analisis secara komprehensif dan multidisipliner. Jangan sampai pemindahan IKN hanya sebagai retorika politik dan praktik politik mercusuar.

Ide memindahkan IKN sejatinya telah muncul sejak era Presiden Soekarno. Proklamator pernah bercita-cita memindahkan IKN dari Jakarta ke Kalimantan. 

Menurutnya, keinginan Soekarno memindahkan IKN saat itu pasti punya motif yang berbeda dengan sekarang. Sepanjang pengetahuannya, berbagai motif dan alasan melatarbelakangi perpindahan IKN. 

Baca: Peneliti BRIN Temukan 6 Begonia Jenis Baru di Sumatra

Ambil misal, IKN pernah pindah ke Yogyakarta 1946, dikarenakan kondisi Jakarta secara politik tidak aman, revolutif, dan di bawah ancaman agresi militer Belanda. Kalau gagasan IKN mau dipindahkan Soekarno tahun 1957 ke Palangkaraya, itu pun sangat mungkin karena salah satunya adanya intrik politik militer 1957 dengan gerakan separatisme dari berbagai daerah, sehingga IKN (Jakarta) tidak aman. 

"Jadi  persoalan perpindahan IKN ini bukan sekadar relevan atau tidak, namun seberapa jauh urgensi dan kesiapan berbagai bidang dalam mengatur keseimbangan dan keadilan pembangunan. Lebih jauh lagi,  kebijakan makro dalam konteks pembangunan, termasuk perpindahan IKN jangan sampai  ahistoris dan bersifat politis," jelasnya.

Terkait nama untuk IKN baru, Arif menilai sebaiknya merujuk pada nama wilayah itu sebelumnya. Sebab, bila terjadi pemilihan nama baru untuk sebuah wilayah biasanya akan menghilangkan aspek historis dan konstruksi sosial budaya masyarakat yang sudah menempati sebelumnya. 

"Dalam kajian sejarah, nama-nama kota, apalagi Ibu Kota, selalu terkait dengan kemegahan kota masa lalu," ungkapnya.

(AGA)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id