UI Kembangkan Sistem Penyimpanan Energi Listrik Mobile

    Citra Larasati - 22 Mei 2020 15:29 WIB
    UI Kembangkan Sistem Penyimpanan Energi Listrik <i>Mobile</i>
    Sistem Penyimpanan Energi Listrik Mobile buatan UI. Foto: UI/Humas
    Jakarta:  Para peneliti Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) mengembangkan Mobile Energy Storage System (MESS) atau Sistem Penyimpanan Energi Listrik Mobile sebagai solusi penyediaan energi bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

    Inovasi MESS diharapkan dapat meningkatkan pemerataan kelistrikan di Indonesia, khususnya pada wilayah timur indonesia yang memiliki Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik yang tinggi.  Tim peneliti FTUI tersebut terdiri dari Dr.-Ing. Budi Sudiarto, ST., MT.; Ir. Chairul Hudaya, ST, M.Eng.,Ph.D,IPM;  Ir. I Made Ardita, M.T.; Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa M.K., M.T.; Ir. Amien Rahardjo, M.T.; Prof.Dr. Ir. Rudy Setiabudy, DEA.; Fauzan Hanif, ST, M.Sc., Faiz Husnayain, S.T., M.T., M.Sc.; Dwi Riana Aryani, S.T., M.Sc.; dan Adhistira Madhyasta Naradhipa, ST, M.Sc.

    Kajian inovasi ini dilakukan berkolaborasi dengan PLN Direktorat Bisnis Regional Maluku, Papua dan Nusa Tenggara (RMPN).  “Mengingat negara kita adalah negara kepulauan, MESS menjadi solusi yang tepat untuk mendistribusikan listrik dari pulau yang kelebihan daya listrik ke pulau atau daerah yang mengalami kekurangan listrik tanpa memerlukan kabel transmisi bawah laut yang memerlukan investasi yang cukup besar,” ujar Dekan FTUI, Hendri D.S. Budiono dalam keterangannya, Jumat, 22 Mei 2020.

    Baca juga:  Menristek: Kita Harus Siap Hidup Tanpa Vaksin Korona

    Di samping itu, transmisi kabel bawah laut juga sering mengalami gangguan yang pemulihannya memerlukan waktu yang cukup lama dan berbiaya besar.

    “Kami menggunakan prinsip kerja yang sama dengan konsep Tabung Listrik (TaLis) yang telah dikembangkan oleh FTUI dan PLN RMPN. Jika TaLis memiliki kapasitas kecil (~1 kWh), maka MESS memiliki orde kapasitas lebih dari 400 kWh,” kata salah satu penggagas MESS, Chairul Hudaya yang juga Rektor Universitas Teknologi Sumbawa.

    Lebih lanjut, Ketua Tim MESS FTUI, Budi Sudiarto, menjelaskan, pendistribusian MESS dalam bentuk kontainer dilakukan dengan menggunakan transportasi laut, sungai dan darat dari pusat pembangkit lstrik menuju pusat beban. Komponen utama MESS adalah baterai, konverter AC-DC dan DC-AC, dan sistem pengendali dan pengaman.

    "Di sini peranan baterai menjadi sangat sentral. Baterai lithium ion digunakan mengingat baterai jenis ini memiliki kerapatan daya dan energi yang relatif tinggi dibandingkan dengan baterai jenis lainnya," jelasnya.

    Dalam pengoperasiannya, MESS memerlukan Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL) untuk melakukan pengisian energi listrik. Pasokan listriknya bisa berasal dari pembangkit atau sistem kumpulan pembangkit yang dipilih berdasarkan biaya pembangkitan energi yang murah dan lokasi yang dapat dijangkau secara mudah oleh transportasi laut, sungai dan darat menuju pusat-pusat beban.

    Beberapa pembangkit yang dapat dipilih sebagai pemasok SPEL di antaranya PLTU/PLTG mulut tambang serta PLTS dan PLTB kapasitas besar yang umumnya memiliki biaya energi rendah.  "Jadi MESS dapat dipasok oleh pembangkit berbasis energi fosil maupun energi terbarukan," imbuh Budi.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id