comscore

Produktivitas Publikasi Ilmiah Meroket, Tapi Minim Dana Riset

Ilham Pratama Putra - 09 Desember 2021 15:29 WIB
Produktivitas Publikasi Ilmiah Meroket, Tapi Minim Dana Riset
Ilustrasi/Medcom.id
Jakarta:  Plt. Dirjen Diktiristek Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam mengatakan, jumlah publikasi jurnal internasional Indonesia mengalami peningkatan sekitar 600 persen dalam enam tahun terakhir.  Namun sayangnya, di tengah meroketnya publikasi tersebut, dukungan dana terhadap penelitian masih minim.

Tahun ini jumlah publikasi internasional Indonesia mencapai 50 ribu jurnal ilmiah.  Angka itu meningkat jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, di mana publikasi jurnal internasional hanya mencapai 8.000 publikasi per tahun.
Namun di tengah meroketnya publikasi tersebut, nyatanya dukungan dana terhadap penelitian masih minim.  Nizam pun menyebut hal itu menjadi kendala penelitian di Tanah Air.

"Ya tentu itu banyak sekali faktornya ya. Satu, banyak sekali keterbatasan anggaran. Banyak sekali yang harus diselesaikan," tutur Nizam dalam Anual Seminar WCP, Kamis 9 Desember 2021.

Nizam juga mengatakan, pendanaan riset per kapita dalam tataran nasional memang sangat rendah. Bahkan dana riset Indonesia belum bisa bersaing di negara-negara wilayah ASEAN.

"Yakni 0,50 persen dari produk domestik bruto (PDB)," terangnya.

Dia mengatakan, pendanaan yang rendah itu dipengaruhi oleh keterbatasan anggaran. Selain itu, porsi pendanaan riset dari dunia industri dan swasta juga masih sangat kecil dibandingkan dengan pendanaan dari negara.

"Sebanyak 70 persen lebih masih dari pemerintah. Dari swasta itu, mencapai 30 persen saja belum ada," tuturnya.

Baca juga:  Jumlah Publikasi Jurnal Internasional Indonesia Meningkat 600% Dalam 6 Tahun

Lebih lanjut, dia menerangkan salah satu prioritas pemerintah saat ini adalah mendongkrak pendanaan riset dari dunia industri. Beberapa upaya untuk menarik pendanaan dari dunia industri adalah melalui kebijakan super tax deduction dan program matching fund.

"(Tax deduction 200 persen) tentu ini sangat menarik. Ini juga yang dilakukan oleh Singapura. Kedua, melalui matching fund. jadi, betul-betul kita ingin memobilisasi pendanaan dari DUDI untuk riset dan pengembangan," tutupnya.

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id