comscore

Pertahankan Kesegaran Ikan Kerapu Cantang, Mahasiswa ITS Teliti Buah Butun Sebagai Anestesi Alami

Renatha Swasty - 14 April 2022 14:57 WIB
Pertahankan Kesegaran Ikan Kerapu Cantang, Mahasiswa ITS Teliti Buah Butun Sebagai Anestesi Alami
Mahasiswa ITS meneliti pemanfaatan ekstrak biji buah butun. DOK ITS
Jakarta: Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meneliti efektivitas biji buah butun secara kuantitas dan kualitas (uji fitokimia) terhadap survival rate ikan kerapu cantang. Penelitian berawal dari mimpi agar nelayan Indonesia bisa mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam revitalisasi perikanan, memotong jalur distribusi, dan meningkatkan kualitas ikan.

Tim terdiri atas Ramadhita Putra Purnomo, Dwi Mayasari, dan M Sahar Mahdan Ardli. Gagasan itu dituangkan lewat karya tulis berjudul Pemanfaatan Ekstrak Biji Buah Butun (Barringtonia asiatica) sebagai Anestesi dengan Uji Fitokimia sebagai Solusi Distribusi Ikan Kerapu Cantang Hidup Segar.
Ketua tim Ramadhita Putra Purnomo menyebut penelitian dilatarbelakangi masih banyaknya nelayan yang mempertahankan kesegaran ikan dengan cara pembekuan. Padahal, hal tersebut berdampak negatif karena dapat menurunkan mutu ikan secara fisik, kimiawi, dan biologis.

"Oleh karena itu, diperlukan solusi inovatif untuk mengatasi masalah distribusi perikanan dengan mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia, salah satunya anestesi dengan buah butun," beber Rama dalam keterangan tertulis, Kamis, 14 April 2022.

Berdasarkan literatur penelitian, sifat anestesi tersebut didapatkan dari senyawa saponin yang terkandung dalam buah butun. Penelitian juga menyajikan data dan fakta mengenai efek anestesi melalui serangkaian metode ilmiah.

Penelitian dibuat dengan memuat uji fitokimia kandungan saponin pada ekstrak biji buah butun dan uji trial run pada ikan kerapu cantang. Uji fitokimia dilakukan menggunakan larutan asam klorida.

Asam klorida direaksikan dengan ekstrak biji buah butun yang kemudian dikocok selama 10 detik. Hasil pengocokan menunjukkan larutan berbuih. Uji fitokimia menghasilkan kesimpulan biji buah butun mengandung saponin.

Busa dapat terbentuk karena saponin mempunyai sifat dapat menurunkan tegangan permukaan air. Buih dimaksudkan sebagai suatu struktur yang relatif stabil yang terdiri dari kantong udara terbungkus dalam lapisan tipis cairan.

"Sehingga dispersi gas dalam cairan yang distabilkan oleh suatu zat penurun tegangan permukaan, dalam hal ini adalah molekul saponin," tutur dia.

Setelah melewati berbagai proses penelitian, Rama menyebut tim menyimpulkan ekstrak biji Barringtonia asiatica sangat berpotensi sebagai bahan anestetik dengan senyawa metabolit sekunder saponin yang dibuktikan dari pengukuran secara kuantitas dan kualitas melalui uji fitokimia. Hasil terbaik adalah pemingsanan ikan dengan konsentrasi 15 mg/L yang dapat digunakan untuk transportasi rantai kering kerapu cantang selama tidak lebih dari 8 jam dengan tingkat kelangsungan hidup 100 persen.

Ekstrak biji Barringtonia asiatica atau butun saat proses anestesi juga mengakibatkan penurunan respons ikan dan gerak operkulum yang melambat. Sehingga akan menurunkan tingkat respirasi ikan yang akan mengganggu proses metabolisme.

"Turunnya metabolisme menyebabkan ikan sulit merespons dan akan terjadi penurunan kerja otak pada ikan," ujar Rama.

Sementara itu, terkait strategi SDGs, Rama menyebut tim menggunakan tiga unsur triple helix dan prinsip timbal balik yang meliputi akademisi (perguruan tinggi serta lembaga penelitian dan pengembangan), pemerintah (government), dan pelaku sektor bisnis.

"Dengan hal tersebut, inovasi anestesi ikan dari ekstrak biji buah butun dapat diimplementasikan secara luas," tutur dia.

Rama menyebut akademisi dapat menjadi pusat pengembangan inovasi dengan bimbingan ahli di dalamnya. Pemerintah dapat memberikan dukungan aktif melalui apresiasi, ruang, kesempatan, maupun dana dalam proyek penelitian. Pelaku bisnis dalam triple helix dapat menjadi pusat pengembangan inovasi menjadi proyek industri, dalam hal ini adalah bisnis.

Berdasarkan penelitian tersebut, tim juga berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Dalam ajang tersebut, tim berhasil mengalahkan ratusan tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi karya kami,” kata Rama.

Rama berharap hasil penelitian ini tak hanya dapat membantu peneliti lainnya, tetapi juga untuk nelayan dan industri. Dia berharap nilai jual ikan hidup lebih mahal dibandingkan dengan ikan yang sudah mati, khususnya ikan kerapu cantang sebagai komoditas ekspor terbesar di Indonesia.

"Oleh karena itu, secara otomatis nantinya ekonomi serta kualitas hidup nelayan Indonesia juga akan meningkat," papar dia.

Baca: ITS Berikan Pelatihan Pembuatan Kapal untuk Masyarakat Mamberamo Raya Papua
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id