Mengenal Parosmia, Gejala Baru Covid-19

    Arga sumantri - 05 Januari 2021 07:08 WIB
    Mengenal Parosmia, Gejala Baru Covid-19
    Ilustrasi. Medcom.id
    Yogyakarta: Sejumlah gejala baru covid-19 bermunculan, salah satunya, parosmia. Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Anton Sony Wibowo menyebutkan parosmia adalah gejala gangguan penciuman yang membuat seseorang merasa membau secara berbeda dari yang seharusnya.

    "Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya," kata Anton melalui siaran pers UGM yang dikutip Selasa, 5 Januari 2020.

    Ia mencontohkan, bau bunga mawar seharusnya harum, tetapi pasien mempersepsikan yang lain, seperti bau tidak enak atau lainnya. Anton menjelaskan persepi bau yang muncul akibat parosmia beragam. Hal itu berbeda dengan gangguan penciuman cacosmia yang membuat seseorang membau tidak enak secara terus menerus.

    Dosen Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM ini mengatakan, gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien covid-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri, diketahui kemunculan parosmia cukup banyak berkisar antara 50,3 hingga 70 persen. Sementara di Indonesia, penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.

    Baca: Jalan Panjang Menguji Efektivitas Vaksin Covid-19

    Parosmia dapat terjadi pada pasien covid-19 akibat virus SARS-Cov-2 memengaruhi jalur proses penciuman seseorang. Hal tersebut bisa dari reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau sampai dengan pusat persepsi saraf penciuman.

    Selain akibat virus, kata dia, kemunculan parosmia juga disebabkan oleh hal yang beragam. Beberapa di antaranya infeksi saluran pernapasan atas, cidera kepala, atau kelainan otak seperti tumor otak.

    Anton menambahkan, gangguan penciuman akibat infeksi virus covid-19 tidak hanya berupa hilangnya kemampuan membau atau anosmia yang telah muncul di awal pandemi, dan kini parosmia. Namun, terdapat beberapa gangguan penciuman lain, salah satunya hyposmia berupa menurunnya kemampuan mendeteksi bau. Lalu, cacosmia yang menjadikan seseorang secara terus menerus mencium bau yang tidak menyenangkan.

    "Pada infeksi covid-19 terdapat gangguan penciuman atau yang dikenal dengan dysosmia yang bisa berupa anosmia, parosmia, hyposmia maupun cacosmia," terangnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id