FKUI Nilai PTM Terbatas Perlu Dikaji Ulang

    Antara - 04 Juni 2021 20:27 WIB
    FKUI Nilai PTM Terbatas Perlu Dikaji Ulang
    Ilustrasi. Foto: MI/Andri Widiyanto



    Jakarta: Ketua Divisi Pulmonologi Intervensional dan Gawat Napas Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Menaldi Rasmin menilai pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas perlu dipertimbangkan kembali. Pertimbangan diminta mengacu perkembangan situasi covid-19.

    "Saat ini kita belum tahu seberapa besar kejadian mutasi varian baru. Ini menjadi satu hal yang patut dipertimbangkan saat menginginkan adanya PTM secara terbatas," ujar Menaldi dalam temu media secara daring, Jumat, 4 Juni 2021.

     



    Dia menambahkan jika perkantoran dibuka kembali, maka hal itu bisa dimaklumi karena terdiri dari orang dewasa yang bisa diatur. Sementara, jika sekolah, sebagian besar adalah anak dan remaja yang waktu di sekolah sebagian besar dihabiskan dengan bermain.

    Baca: Vaksinasi Guru Masih Lambat, PTM Terbatas Sulit Dipaksakan Serentak

    Menaldi menambahkan catatan mengenai covid-19 pada anak belum terdengar banyak. Angka kesakitan, bahkan kematian, terjadi pada anak yang memiliki penyakit penyerta.

    "Tapi bisa jadi anaknya tidak sakit begitu terinfeksi covid-19, tapi membawa penyakit itu atau menjadi carrier dan menularkannya pada orang tua dan guru," kata guru besar FKUI itu.

    Jika PTM terbatas benar-benar harus dilakukan, lanjut dia, maka protokol kesehatan harus dijalankan degan ketat. Menaldi menyebut untuk jenjang perguruan tinggi juga tidak bisa dilakukan sepenuhnya daring. Mahasiswa FKUI misalnya, lanjut dia, sudah mulai melakukan perkuliahan secara luring.

    Peneliti pada FKUI Prof Rismala Dewi mengatakan hasil penelitian yang dilakukan oleh FKUI menunjukkan 40 persen pasien anak yang terkonfirmasi positif covid-19 meninggal. Mortalitas terjadi pada anak umur di atas 10 tahun dengan komorbid, terutama penyakit ginjal.

    Baca: Kemendikbudristek Beberkan Prioritas Penerima KIP-K 2021

    Hasil kajian tersebut berdasarkan 490 anak yang suspek covid-19, dan setelah dilakukan pemeriksaan sebanyak 50 anak dinyatakan positif covid-19.

    Rismala menambahkan pada penelitian tersebut, belum bisa menyimpulkan bahwa kematian anak-anak tersebut murni karena covid-19. Dari 20 anak yang meninggal itu, sebanyak empat anak memiliki satu komorbid dan 16 anak memiliki komorbid lebih dari dua.

    "Kebanyakan memiliki penyakit seperti gagal ginjal dan keganasan. Sesuai dengan pasien kita yang datang ke RSCM," kata Rismala.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id