comscore

Hari Keluarga Nasional 2022, Dosen Unesa Beberkan Kunci Mengatasi Stunting

Renatha Swasty - 29 Juni 2022 19:06 WIB
Hari Keluarga Nasional 2022, Dosen Unesa Beberkan Kunci Mengatasi Stunting
Ilustrasi stunting. DOK
Jakarta: Kasus stunting atau persoalan gagal tumbuh pada anak menjadi persoalan serius di Indonesia. Kendati angka prevalensi stunting mengalami penurunan dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 24,4 persen pada 2021. 

Namun, angka tersebut masih terbilang serius dan berada di atas standar WHO, 20 persen. Data survei Status Gizi Balita Indonesia (SGBI) 2021 menunjukkan prevalensi stunting masih di angka 24,4 persen atau sebanyak 5 juta lebih balita mengalami stunting dari sekitar 23 juta anak di Indonesia. 
“Ini menjadi permasalahan serius yang tentunya perlu menjadi prioritas seluruh pihak, pemerintah pusat hingga daerah dan stakeholder, termasuk perguruan tinggi,” ujar Ketua Program Studi (Kaprodi) Gizi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Veni Indrawati, dikutip dari laman unesa.ac.id, Rabu, 29 Juni 2022. 

Veni menuturkan penyebab utama stunting, yaitu kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, yakni sejak janin hingga anak berusia sekitar 24 bulan (golden age). Kemudian, masalah kesehatan ibu dan pola asuh yang kurang baik. 

Pengetahuan yang minim dari sang ibu akan pentingnya asupan nutrisi sejak bayi juga menjadi faktor penting. Selain itu, faktor lingkungan berupa sanitasi buruk dapat mengakibatkan diare dan infeksi cacing usus atau cacingan yang berdampak pada kondisi nutrisi sang anak. 

“Faktor-faktor lainnya juga berkaitan dengan pelayanan kesehatan, kurangnya asupan nutrisi, kebersihan air, terlewatnya imunisasi, hingga tidak terpenuhinya kebutuhan ASI eksklusif pada anak,” beber Veni.

Veni mengingatkan kasus stunting bakal menjadi rantai persoalan berkepanjangan bahkan berisiko menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia ke depan bila tidak benar-benar ditangani cepat dan tepat.  

Kolaborasi, pencegahan, dan penanganan

Stunting dapat dicegah mulai dari pemeriksaan rutin kehamilan, pemberian nutrisi yang cukup untuk ibu dan bayi, deteksi dini penyakit, melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai, Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan atau Makanan Pendamping ASI (MPASI), pemberian imunisasi lengkap, serta pemantauan pertumbuhan balita.

Veni menuturkan dalam mengatasi persoalan tersebut, lagi-lagi pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Seluruh pihak terkait atau stakeholder harus mengambil bagian. 
 

Halaman Selanjutnya
Pusat hingga daerah semua bahu…






Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id