Ilmuwan Indonesia Belum Optimal Gali Keanekaragaman Hayati

    Candra Yuri Nuralam - 28 November 2019 16:17 WIB
    Ilmuwan Indonesia Belum Optimal Gali Keanekaragaman Hayati
    Presiden Akademi Ilmuan Muda Indonesia (Almi) Alan F. Koropita dalam pameran foto ilmuan muda di Galeri Orbital, Dago, Bandung. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
    Bandung:  Keanekaragaman Hayati jika dimanfaatkan dengan baik dapat menghasilkan manfaat baik secara keilmuan maupun materil.  Namun sayangnya, "tambang emas" itu belum banyak dimanfaatkan secara keilmuan olehh ilmuwan Tanah Air.

    Presiden Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (Almi) Alan F. Koropita mengatakan, masyarakat Indonesia memiliki cara yang unik dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati, yakni dengan menggabungkan metode tradisional dengan modern.

    "Misalnya, masih banyak masyarakat yang 'diwariskan' berbagai metode dan resep pengobatan dengan menggunakan sumber daya alam, inilah yang harus dikembangkan," kata Alan saat ditemui di Galeri Orbital, Dago, Bandung, Rabu 27 November 2019.

    Alan menceritakan pengalamannya ketika bersama temannya saat sedang berada di salah satu pantai di Palu, Sulawesi Tengah. Saat itu, temannya menginjak seekor ikan beracun tanpa disengaja.

    "Lantas kita langsung membawa ke dukun, tapi dukun itu enggak memberi jampi-jampi, tapi malah memberikan ramuan yang diberi ke luka, anehnya racun ini jadi tidak menjalar ke mana mana," ujar Alan.

    Alan mengatakan, ramuan itu bisa menahan racun yang ada di tubuh temannya hingga pulang ke rumahnya di Bogor, Jawa Barat. Saat diperiksa oleh teman-teman ilmuwan, ternyata ramuan yang diberikan oleh dukun di Palu tersebut merupakan zat penghambat racun.

    Hal ini lah, kata Alan, yang kerap luput dari para ilmuwan di Indonesia. Bagaikan tambang emas, ilmu keanekaragaman hayati di Indonesia masih bisa digali secara maksimal.

    "Inilah yang harus dikembangkan, cerita temurun di mana merupakan pendekatan sains modern dan lokal," tutur Alan.

    Alan meyakini, ke depannya Indonesia bisa menjadi negara yang hebat jika keanekaragaman hayati dikembangkan lagi secara optimal. Bahkan, Alan meyakini Indonesia bisa menjadi industri utama dunia jika hal tersebut bisa dikembangkan secara maksimal.

    "Kita punya modal yang besar, kita punya keanekaragaman yang terbesar di dunia. Indonesia bisa menghasilkan peralihan ke Industri," tutur Alan.

    Untuk itu dia mengajak anak muda untuk mau menjadi ilmuwan ke depannya. Menurutnya, masih banyak bibit muda di Indonesia yang tersembunyi namun potensial dikembangkan.

    Dia juga mengatakan bahwa menjadi ilmuwan tidak melulu harus berangkat dari perguruan tinggi ternama dan nilai tinggi. Semua itu, kata dia, hanya perlu mimpi yang besar untuk membesarkan nama bangsa.

    "Kalau menjadi ilmuwan yang berorientasi meraih Nobel itu baik, tapi yang dibutuhkan Indonesia bukan itu, yang dibutuhkan adalah ilmuwan yang bisa menjawab permasalahan bangsa," tuturnya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id