Di Masa PJJ, Anak Kian Rentan Terpapar Konten Negatif

    Citra Larasati - 06 Januari 2021 13:40 WIB
    Di Masa PJJ, Anak Kian Rentan Terpapar Konten Negatif
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta:  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, anak-anak kian rentan terpapar hoaks, hingga konten negatif dari internet terutama di masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang banyak digelar secara daring selama pandemi covid-19.

    Bahkan dengan intensitas berselancar internet yang tinggi, bukan tidak mungkin anak juga menjadi korban/pelaku kejahatan siber, seperti yang saat ini terjadi di kasus parodi lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

    Komisioner Bidang Pornografi dan Cybercrime KPAI, Margaret A. Maimunah mengatakan, angka anak yang menggunakan gawai di luar aktivitas belajar masih cenderung tinggi.  Akibatnya, rentan bagi anak terpapar informasi yang salah, konten negatif atau menjadi korban/pelaku kejahatan siber seperti kasus parodi lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang saat ini diproses oleh Mabes Polri.

    "Anak-anak perlu pendampingan saat berselancar di dunia maya," kata Margaret, di Jakarta, Rabu, 6 Januari 2021.

    Berdasarkan hasil pengawasan KPAI, dalam kasus parodi lagu itu, sebelum membuat konten negatif tersebut, anak pelaku (16) telah terlebih dahulu bergabung dengan grup media sosial yang berisi ujaran kebencian. Dalam kasus lainnya yang serupa, orang tua juga melaporkan ke KPAI tentang keberadaan grup pornografi yang mengundang anaknya.

    Baca juga:  70% Orang Tua Siswa di Banjarmasin Disebut Menghendaki PTM

    Dari satu grup pornografi itu kemudian berkembang ke grup lainnya yang juga sarat dengan hal negatif.  Untuk itu, Margaret mengimbau kepada seluruh orang tua agar melakukan cek atau kontrol pada gawai anak terkait dengan apakah anak bergabung pada grup tertentu di media sosial.

    Grup yang dimaksud adalah grup yang sarat dengan konten-konten negatif, serta dapat berdampak negatif terhadap tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak. Konten-konten negatif yang dimaksud adalah konten bermuatan pornografi, kekerasan, dan perilaku negatif lainnya.

    Jika orang tua menemukan anak bergabung dalam grup tersebut, kata Margaret, maka anak harus segera dikeluarkan dari grup tersebut.  “Bagi orang tua yang menemukan grup-grup berkonten negatif tersebut, orang tua dapat melaporkannya ke KPAI agar dapat dilakukan upaya tindak lanjut,” tegas Margaret.

    Selanjutnya, Margaret kembali mengajak orang tua agar membangun komitmen dengan anak terkait aturan penggunaan gawai dan aktivitasnya dalam bermedia sosial.  Tujuannya agar anak-anak dapat terlindungi dari berbagai konten negatif dan kejahatan siber.

    "Termasuk dalam hal ini adalah memberikan penjelasan kepada anak-anak terkait dengan adanya ancaman berbagai konten negatif dan kejahatan siber," terangnya.

    KPAI telah melakukan survei tentang pemenuhan hak dan perlindungan anak pada masa covid 19. Dalam survei tersebut, salah satu data yang memerlukan perhatian bersama adalah bahwa anak diizinkan menggunakan gawai di luar jam belajar oleh orang tua sebanyak 76,8 persen. 

    Adapun durasi penggunaan gawai di luar jam belajar adalah 1-2 jam per hari sekitar 36,5 persen, durasi 2-5 jam per hari sekitar 34,8 persen, dan durasi lebih dari lima jam per hari sekitar 25,4 persen. 

    Penggunaan gawai tersebut rata-rata adalah milik anak sebanyak 71,3 persen. Penggunaan gawai tersebut kebanyakan tanpa dibarengi dengan adanya aturan penggunaan dari orang tua sebanyak 79 persen. Kebanyakan orang tua juga tidak melakukan pendampingan pada saat anak menggunakan gawainya.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id