Lewat 'Tular Nalar' Tingkatkan Literasi Media di Kampus

    Ilham Pratama Putra - 06 Januari 2021 19:59 WIB
    Lewat 'Tular Nalar' Tingkatkan Literasi Media di Kampus
    Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Kemendikbud, Nizam. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama
    Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mambangun program 'Tular Nalar' sebagai upaya meningkatkan literasi media bagi dosen dan mahasiswa. Program Tular Nalar ini memberikan pelatihan terkait pemikiran kritis dan literasi media di perguruan tinggi.

    "Dengan Tular Nalar seperti menularkan akal sehat yang menjadi komandan di dalam mengambil keputusan, mempersepsikan informasi dalam media yang membanjiri kita dan dibutuhkan penalaran yang kuat dalam hal ini,” ucap Dirjen Dikti Kemendikbud, Nizam dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 6 Januari 2021.

    Program ini merupakan hasil kerja sama dengan Maarif Institute yang dimulai sejak Oktober 2020 lalu. Kerja sama tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk pelatihan di sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

    Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi kampus pertama yang menjalankan program ini. Program Tular Nalar bertujuan mendukung dan memfasilitasi pengajar di perguruan tinggi untuk mengajarkan keahlian literasi media, termasuk dalam menangkal hoaks, disinformasi dan misinformasi dalam konteks covid-19 sekarang ini.

    Nizam menilai, dalam kemajuan saat ini, menjadi sangat penting bagi masyarakat untuk mempunyai daya kritis yang tinggi. Pasalnya, saat ini terjadi banjir informasi yang ada di media sosial maupun media informasi yang sumbernya tidak jelas tetapi sangat mendistorsi realita.

    "Acara ini sangat baik untuk membawa kita semua pada pendidikan yang betul-betul mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara," tambah Nizam.

    Baca juga:  Tips Lolos Beasiswa LPDP, Awardee: Persiapkan dari Sekarang

    Pada kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abdul Rohim Ghazali mengatakan, bahwa pelatihan daring Tular Nalar ini nantinya juga akan menyasar perguruan tinggi swasta. Menurutnya program ini sangat penting dalam melawan hoaks.

    "Dengan penggunaan nalar kritis dalam memanfaatkan dunia daring diharapkan dapat menjadi tradisi yang tidak hanya berada di lingkungan akademisi, dosen dan mahasiswa, tetapi bisa menjadi tradisi di kalangan masyarakat pada umumnya," terang Abdul.

    Sementara itu, Pakar Komunikasi Ni Made Ras Amanda mengatakan, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia terus bertambah. Namun, selama pandemi covid-19 ini ditemukan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-5 dunia yang kerap memunculkan isu, rumor, stigma, serta teori konspirasi covid-19.

    “Mari kita mendidik anak-anak kita mahasiswa untuk dapat berpikir kritis. Kehidupan mereka ke depannya lebih banyak berhadapan dengan isu-isu sehingga soft skills harus kita tingkatkan agar mereka dapat bertahan terhadap dampak negatif internet,” tutup Amanda.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id