Pengakuan Seorang PNS yang Mencoret-coret Pidato Nadiem

    Citra Larasati, Muhammad Syahrul Ramadhan - 27 November 2019 19:13 WIB
    Pengakuan Seorang PNS yang Mencoret-coret Pidato Nadiem
    Foto naskah pidato Mendikbud, Nadiem Makarim yang berisi coretan berisi kritik terhadap isi pidato Hari Guru Nasional. Foto: Twitter
    Jakarta: Jagad dunia maya diramaikan oleh postingan akun Twitter @trendingtopiq yang mencoret-coret pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tentang peringatan Hari Guru Nasional. Seperti mengoreksi pekerjaan murid, poin-poin pidato Nadiem dilingkari dan diberi catatan.

    Hampir semua poin pidato Nadiem diberi catatan, seperti pada poin pembukaan bahwa biasanya peringatan hari guru dipenuhi kata inspiratif dan retorik. Catatan yang diberikan langsung menohok.

    Sebenarnya, pidato ini juga dipenuhi dengan kata-kata inspiratif dan retorik. Apa salahnya dengan itu? Anda mau humblebarg (menyombongkan diri secara terselubung)?" tulis @trendingtopic.

    Ahmad Taufiq sebagai pemilik akun mengatakan ada tiga garis besar yang ingin ia soroti dalam unggahannya di Twitter.  Ketiga poin itu adalah Nadiem yang tidak mau berjanji muluk, Nadiem yang menyampaikan masalah klasik, dan Nadiem membiarkan guru bergerak sendiri menyelesaikan masalahnya itu melalui konsep Guru Penggerak.

    "Tiga hal itu, sisa isi pidatonya hanya retorika," ujar Taufiq yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah instansi kepada Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 27 November 2019.
     

    Cericit Taufiq ini disukai 1.200 pengguna Twitter. Sebanyak 700 orang membicarakan cuitan dia. Sebanyak 91 orang di antaranya bahkan ikut bersuara atau berkomentar.

    Taufiq mengaku apa yang ia lakukan semata-mata untuk menyampaikan kritik sebagai seorang ayah yang memiliki putra usia sekolah dan pengguna Twitter nonpartisan. Taufiq menyuarakan keresahannya sebagai orang tua yang sering berhadapan dengan aturan sekolah yang ada saat ini.

    Aturan yang menurutnya merepotkan, apalagi dengan adanya kebijakan menteri sebelumnya tentang zonasi, plus belum meratanya kualitas sekolah.  "Membuat saya seperti dipaksa memilih menyekolahkan anak di sekolah negeri sesuai zona yang kualitasnya kurang bagus. Atau bersekolah di sekolah swasta yang lebih mahal dan siswanya homogen (kekayaan, agama, etnis, dan lain-lain)," kata Taufiq.

    Ia pun menegaskan, cuitan itu juga bentuk kritik kepada Nadiem Makarim sebagai Mendikbud yang seharusnya memosisikan pidatonya sebagai pemerintah, regulator, sekaligus pemangku kebijakan. Ia sebenarnya berharap ada pernyataan dan solusi konkret yang disampaikan Nadiem di pidato Hari Guru Nasional tersebut.

    "Beliau bisa saja langsung mengambil langkah konkret dengan merombak habis-habisan dunia pendidikan," ujarnya.

    Poin lainnya yang ia soroti, bahwa Nadiem tidak menyinggung soal kesejahteraan guru. Pidato tersebut disampaikan pada momentum Hari Guru Nasional, bukan Hari Pendidikan Nasional.

    "Beliau juga tak menyentuh sama sekali masalah peningkatan kesejahteraan guru, baik yang honorer maupun di daerah terpencil," imbuhnya.

    Ia juga memberikan pernyataan satire dalam coretannya di atas naskah pidato Nadiem, 'Anda yang pengambil keputusan. Anda yang punya kekuasaan. Masa guru disuruh DIY (Do it Your Self)? Anda ini menteri bukan Anarko Sindikalis atau SJW medsos!' ujar Taufiq dalam coretannya.

    Menurutnya selama ini yang mempromosikan semangat DIY atau Do It Yourself itu dilakukan sebagai bentuk delegitimasi peran negara dan upaya melawan kapitalisme.

    "Jadi agak geli saja kalau pejabat negara, yang paling punya kuasa, justru mempromosikan semangat DIY. Apakah Pak Nadiem juga mau mendelegitimasi dirinya dan lembaga yang dipimpinnya sendiri," ujarnya.

    Ia pun menganggap pidato mantan bos Gojek itu humblebrag (menyombongkan diri secara terselubung). Belum lagi keresahan yang disampaikan oleh Nadiem mulai dari beban administratif guru yang menyita waktu, keseragaman, kolaboratif, petualangan, kurikulum yang padat dinilai sudah menjadi rahasia umum.

    "Jika beliau tak menyampaikan komitmennya sebagai seorang decision maker, seorang menteri, untuk mengubah itu. Alih-alih semacam itu, beliau justru membiarkan guru-guru melakukan inovasi sendiri. Lantas buat apa? Sekadar curhat?" tegasnya.

    Sementara itu, menurut Taufiq, keengganan Nadiem menyampaikan janji-janji kosong kepada guru juga dipertanyakan.  "Janji itu bukan hal yang buruk kok. Yang buruk itu kalau tidak ditepati," ucapnya.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id