Jurnal Ilmiah Predator Jadi Momok Bagi Peneliti

    Ilham Pratama Putra - 03 Februari 2020 16:19 WIB
    Jurnal Ilmiah Predator Jadi Momok Bagi Peneliti
    Kampus IPB. Foto: IPB/Humas
    Jakarta:  Jurnal ilmiah predator atau abal-abal menjadi momok buat peneliti.  Mereka menipu dosen yang ingin mempublikasikan karya ilmiahnya.

    Hal ini tentu merugikan perguruan tinggi hingga dosen peneliti itu sendiri.  Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria mengatakan, inilah sesungguhnya yang menjadi beban peneliti dalam menerbitkan jurnal internasional.

    "Kita akui jurnal-jurnal internasional banyak yang abal-abal," kata Arif kepada Medcom.id, Senin, 3 Februari 2020. 

    Sebab, kata Arif, jurnal predator kerap kali memeras peneliti.  Peneliti ditagih sejumlah uang sebagai biaya yang digunakan untuk publikasi karya ilmiahnya.

    Padahal, kata Arif, jika resmi tentu peluncuran tak akan memberatkan penulis. Bahkan pihak perguruan tinggi akan membantu peluncuran tersebut. 

    "Bahkan terlalu komersial (sulit dibedakan). Itu yang memberatkan penulis," ungkap dia.

    Mengenai cara menangkal jurnal predator Arif tak membeberkannya secara gamblang. Hanya saja, Arif menegaskan, bahwa IPB selalu selektif pada jasa penerbitan jurnal internasional.

    IPB sendiri lebih fokus meningkatkan jumlah publikasi internasionalnya. Dalam catatannya pada 2019, IPB telah meluncurkan 1.167 jurnal yang terindeks Scopus.

    "Jumlah itu meningkat dari jumlah tahun 2018, sebanyak 1.057," ujar Arif.

    Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt. Dirjen Dikti) Kemendikbud, Nizam, mengatakan jurnal predator kerap menawarkan jasa penerbitan jurnal internasional. Nizam mengaku telah mengumpulkan sejumlah nama di balik jurnal predator tersebut.
     
    "Ini ratusan jurnal yang abal-abal. Nah, kita membuat list. List jurnal-jurnal mana yang termasuk dalam kelompok jurnal predator," kata Nizam di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat 31 Januari 2020.
     
    Untuk meluncurkan jurnal internasional yang resmi, tak ada biaya yang dipungut dari dosen. Selain itu, prosesnya berlangsung lebih lama.
     
    "Bisa berbulan-bulan. Soalnya ada tahap verifikasi, review, dan lain-lain dulu kan," kata Nizam.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id