Penerapan Kurikulum Nasional Kurang Perhatikan Keragaman

    Citra Larasati - 16 Mei 2020 13:01 WIB
    Penerapan Kurikulum Nasional Kurang Perhatikan Keragaman
    Siswa SD di Natuna. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
    Jakarta:  Penerapan kurikulum 2013 dalam skala nasional dinilai sebagai bentuk diskriminasi terhadap ilmu pengetahuan. Pemerintah dinilai kurang mempertimbangkan keragaman dan disparitas pada kondisi daerah-daerah tertentu di Indonesia.

    "Pengetahuan dalam kurikulum diambil berbasis kebutuhan kota besar, namun diberikan kepada kabupaten kecil seperti di Papua. Padahal kebutuhannya bisa berbeda," ungkap Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jimmy Paat dalam Diskusi Daring bertema Mengurai Diskriminasi Pendidikan, Jumat malam, 15 Mei 2020.

    Dia menilai penyeragaman itu adalah bentuk diskriminasi di dunia pendidikan. Mereka yang bukan bagian dari kota besar dipaksakan memakan kurikulum yang sama.

    "Harusnya tidak seperti itu. Ini diskriminatif. Itu yang disebut pengetahuan dipaksakan lebih awal," terang Jimmy.

    Baca juga:  Penindakan Kasus Korupsi di Sekolah Jarang Dituntaskan

    Sebaiknya ada koordinasi yang komprehensif dalam menentukan kurikulum nasional. Atau bisa juga dibuatkan muatan khusus yang diterapkan pada daerah atau kelompok tertentu, untuk mencegah terjadinya diskriminasi.

    "Pengetahuan sekolah milik kelompok tertentu itu harus disadari," ujar dia.

    Bagi Jimmy, banyak yang dilewatkan pemerintah saat menyusun kurikulum. "Persoalannya ada di guru yang tidak banyak terlibat membuat kebijakan kurikulum," tandasnya.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id