Kemendikbud Uji Publik Standar Kompetensi Baru Guru dan Kepsek

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 18 Maret 2020 14:53 WIB
    Kemendikbud Uji Publik Standar Kompetensi Baru Guru dan Kepsek
    Ilustrasi. Foto: MI/Gino Hadi
    Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah menyusun kompetensi baru untuk Guru dan Kepemimpinan Sekolah.  Kompetensi teranyar ini sedang diuji publik dan akan diperkuat dengan masukan dari masyarakat.

    Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kemendikbud, Praptono mengatakan, bahwa kompetensi ini disusun untuk mewujudkan SDM unggul melalui bidang pendidikan.  Yakni melalui penguatan peran kepala sekolah dan guru, sehingga guru bisa berdaya dan mampu memberdayakan, begitu juga Kepala Sekolah bisa menjadi penggerak sekaligus menggerakkan.

    "Maka salah satu pendekatan yang kita lakukan adalah dengan membangun atau menyusun model kompetensi yang bisa dipahami oleh semua yang terlibat dalam persoalan pendidikan ini," terang Praptono dalam video conference Uji Publik Model Kompetensi Guru dan Kepemimpinan Sekolah, di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020.

    Praptono mengatakan, Model Kompetensi baru ini masih diuji publik dan terus diperkuat, segala masukan bisa disampaikan ke Kemendikbud sampai 28 Maret 2020.

    Tim Pengembang Uji Publik Model Kompetensi Guru dan Kepemimpinan Sekolah, Bukik Setiawan menjelaskan, dalam model kompetensi guru terbaru ini ada tiga kategori di dalamnya.  Berisi sejumlah kompetensi dan berjenjang, mulai dari berkembang, layak, cakap, hingga mahir.

    Pertama yakni penguasaan pengetahuan profesional, artinya guru menguasai bidang sekaligus bisa mengajarkan dengan baik ke muridnya. Itu, kata Bukik, merupakan kunci yang membedakan guru dengan ilmuwan. Yakni, bisa mengajarkan konsep ke murid.

    "Sebagai pembeda, guru matematika memahami suatu pengetahuan matematika itu diajarkan kepada murid yang itu kurang begitu dikuasai oleh ilmuwan matematika. Itu masuk kategori pertama," jelasnya.

    Kompetensi kategori pertama ini, pertama menganalisis struktur dan alur pengetahuan untuk pembelajaran. Kedua menjabarkan tahap penguasaan kompetensi murid, dan ketiga menetapkan tujuan belajar sesuai kurikulum, perkembangan murid dan profil pelajar Indonesia.

    Kemudian, praktek pembelajaran profesional. Ini kata dia, di kompetensi yang lama yakni pedagogi. "Tapi di sini praktek pembelajaran. Itu memang menunjukkan kekhasannya, harapannya alih-alih menggunakan pedagogi, kami menggunakan praktik pembelajaran karena itu lebih mudah dipahami oleh semua guru," terangnya.

    Dalam kategori ini, kompetensinya antara lain, mengembangkan lingkungan kelas yang nyaman dan aman bagi murid belajar, mendesain, memandu dan merefleksikan proses belajar mengajar yang efektif, melakukan asesmen, menyediakan umpan balik dan laporan belajar.  Selain itu juga melibatkan orang tua murid dan komunitas dalam proses belajar.

    Kemudian berikutnya pengembangan profesi berkelanjutan. Ia menjelaskan, jika dalam kompetensi lama kepribadian dan sosial, di kompetensi ini guru sebagai sebuah profesi, maka nilai-nilai tersebut sudah harus melekat pada guru.

    "Guru adalah profesi. jadi personal itu melekat atau mengejawantah dalam profesi itu paling penting. tidak semata-semata personalnya, tapi ada dalam profesi. itu kenapa kami menyebutnya profesi berkelanjutan," jelas dia.

    Untuk kompetensi kategori ini, pertama menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri (self regulated learning), kedua menunjukkan kematangan moral, emosi, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik (integrity), ketiga menunjukkan praktik dan kebiasaan bekerja yang berorientasi pada anak (working with children).

    Kemudian keempat, melakukan kolaborasi dan pengembangan bersama dan bagi orang lain (developing others).  Kelima, mengembangkan karier melalui partisipasi aktif dalam organisasi profesi guru (professional development).

    Kepala Sekolah

    Sementara untuk kompetensi Kepemimpinan Sekolah, Itje Chodijah, anggota Tim Pengembang Uji Publik Model Kompetensi Guru dan Kepemimpinan Sekolah menjelaskan, ada empat kategori di Model Kompetensi Kepemimpinan Sekolah. Kategori ini berkurang dari model sebelumnya.

    Kategori pertama mengembangkan diri dan orang lain. Basis dari kategori adalah instructional leadership.

    Kategori ini terdapat empat kompetensi yakin, menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri (self regulated learning), mengembangkan kompetensi warga sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar murid (facilitating, coaching, mentoring).  Lalu berpartisipasi aktif dalam organisasi profesi kepemimpinan sekolah dan komunitas lain untuk pengembangan karir, dan menunjukkan kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik (integrity).

    "Kemudian yang kedua, kategori yang memimpin pembelajaran. Kenapa di sini penting, karena tugas utama pemimpin sekolah adalah mendampingi guru untuk mengembangkan siswanya atau muridnya. dalam kategori ini ada empat kompetensi memimpin upaya membangun lingkungan belajar yang berpusat pada murid," jelasnya.

    Kompetensi kategori ini meliputi memimpin upaya membangun lingkungan belajar yang yang berpusat pada murid, memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid.  Kemudian memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid, dan melibatkan orang tua sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah.

    Kemudian kompetensi berikutnya memimpin manajemen sekolah. Dengan kompetensi  memimpin upaya mewujudkan visi sekolah menjadi budaya belajar yang berpihak pada murid. Memimpin dan mengelola program sekolah yang berdampak pada murid.

    "Kategori berikutnya memimpin pengembangan sekolah untuk mengoptimalkan proses belajar murid yang berbasiskan kebutuhan-kebutuhan komunitas sekitar sekolah. Keterlibatan orang tua dan komunitas dalam pembiayaan dan pengembangan sekolah," terangnya.

    Dengan kompetensi memimpin pengembangan sekolah untuk mengoptimalkan proses belajar 
    murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas sekitar sekolah. Melibatkan orangtua dan komunitas dalam pembiayaan dan pengembangan sekolah.  



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id