comscore

Rektor IPB Sebut Idulfitri Mesti Jadi Momentum Kemajuan 7 Hal

Renatha Swasty - 02 Mei 2022 15:53 WIB
Rektor IPB Sebut Idulfitri Mesti Jadi Momentum Kemajuan 7 Hal
Rektor IPB University Arif Satria saat menyampaikan khotbah Idulfitri 1443 H di Masjid Al Markaz, Makasar, Sulawesi Selatan. DOK Pribadi
Jakarta: Idulfitri merupakan momentum kembalinya kepada fitrah, yakni kesucian diri. Kesucian diri ialah modal untuk bergerak ke depan menjalani kehidupan.

Kesucian bukan status statis. Melainkan status dinamis karena kita kembali akan berdialektika dengan kehidupan nyata pasca Ramadan.
"Oleh karena itu, kita akan berharap bahwa dengan modal kesucian ini kita semakin jernih membedakan yang benar dan yang salah, memetakan keadaan, dan terus proaktif memberikan solusi sehingga kita terus berada dalam rel kemajuan," kata Rektor IPB University Arif Satria saat menyampaikan khotbah Idulfitri 1443 H di Masjid Al Markaz, Makasar, Sulawesi Selatan, Senin, 2 Mei 2022.

Arif menuturkan manusia mesti hidup dalam rel kemajuan. Lebih-lebih kita dihadapkan pada dinamika perubahan yang cepat akibat disrupsi revolusi Industri 4.0.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indoensia (ICMI) tu menyebut ada tujuh kemajuan yang mesti dilakukan. Pertama, orientasi sebagai pembelajar.

Dia menuturkan ayat Al-Aqur'an yang pertama kali turun adalah iqra yang artinya membaca. Penguatan literasi menjadi fondasi dalam membangun masyarakat.

Namun, membaca bisa dimaknai lebih luas tidak saja membaca teks tetapi juga membaca konteks. Teks yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang fiks.

"Namun, kehidupan bersifat dinamis karena dunia selalu mengalami perubahan. Sehingga kita ditugaskan untuk terus menggali nilai-nilai yang terkandung dalam teks untuk diterapkan dalam berbagai konteks sesuai dengan dimensi ruang dan waktu," tutur dia.

Kedua, orientasi pada masa depan. Dia menyebut ada dua dimensi masa depan, yaitu masa depan di dunia dan di akhirat.

Akhirat menjadi titik ujung masa depan yang abadi, namun kita harus melewati titik-titik antara yang ada di dunia. Kehidupan dunia juga punya rentang waktu, yakni masa lalu, hari ini, dan masa depan.

Arif menyebut saat menjalani kehidupan di dunia, kita dituntut mengkombinasikan titik masa depan akhirat dan masa depan dunia. Sehingga, doa kita lalu menjadi doa agar bahagia dunia dan akhirat, yang hampir setiap saat kita lafaskan.

"Artinya, kehidupan akhirat kita akan sangat tergantung dari apa yang kita kerjakan dan investasikan di dunia ini," tutur dia.

Ketiga, orientasi tentang waktu dan kulitas kerja. Arif menjelaskan kualitas kerja adalah orientasi bagi seorang yang beriman. Hal ini tercermin dari melekatnya dua kata, yaitu beriman dan
beramal soleh dalam sejumlah ayat.

Ini adalah konsekuensi dari dalil bahwa dunia adalah jembatan menuju akhirat. Orang menuju akhirat perlu kehidupan yang baik di dunia. Kehidupan yang baik di dunia memerlukan kualitas kerja yang baik pula.

Kualitas kerja yang baik adalah hasil pemanfaatan waktu yang baik pula. Artinya setiap waktu akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berbuat baik. Tidak ada waktu yang terbuang sia-si.

"Oleh karena itu, marilah kita terus perkuat kulitas kerja kita agar kita mampu menghasilkan legacy-legacy yang menyejarah dan bermanfaat untuk kemajuan kehidupan manusia dan alam semesta. Hal ini karena sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberi manfaat yang paling berkualitas untuk orang lain," tutur Arif.

Keempat, orientasi untuk saling menginspirasi dan kolaborasi. Arif menyebut Al-Qur’an surat Al-
Ashr 1-3 menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal soleh adalah orang yang saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran. Ayat ini penting di tengah masalah dan tantangan kehidupan yang berbeda dari waktu ke waktu.

Arif menyebut untuk menghadapi masalah dan tantangan perlu ide dan pemikiran, serta pada saat yang sama juga memerlukan semangat dan motivasi baru. Dia mengatakan di sini inspirasi tentang kebenaran dan kebaikan sangat diperlukan untuk menjadi modal dalam memperkuat kualitas kerja.

"Di era seperti ini memerlukan skill kolaborasi yang kuat. Kolaborasi ini adalah modal penting untuk lahirnya sebuah inovasi. Hampir semua inovasi yang disruptif adalah inovasi hasil kolaborasi. Saat ini kita tidak bisa lagi hidup sendirian," papar Arif.

Kelima, integritas. Arif menjelaskan kolaborasi yang akan bertahan dalam waktu lama adalah kolaborasi yang berbasis pada sikap saling percaya. Inilah yang membuat negara-negara maju sangat produktif berinovasi karena kuatnya kolaborasi antar ilmuwan dan antar lembaga.

Kelanggengan kolaborasi tercipta karena basis hubungan adalah kepercayaan. Hal ini bisa terwujud karena masyarakat sudah tergolong apa yang disebut Fukuyama sebagai high trust society, yaitu masyarakat dengan rasa saling percaya yang tinggi.

"Mereka bisa saling percaya karena mereka memiliki integritas yang kuat yang berpegang pada prinsip kejujuran," tutur Arif.

Keenam, berpikir positif. Arif mengatakan seorang mukmin selalu mengambil hikmah dari setiap
peristiwa. Kita dilatih untuk bersikap positif atas kejadian apa pun.

"Sikap positif ini akan berdampak pada menguatnya optimisme dalam berbagai hal dan optimisme adalah modal untuk kemajuan," tutur Arif.

Ketujuh, proaktif dan penuh inisiatif. Maju mundurnya kehidupan kita sangat tergantung dari sikap proaktif dan daya inisiatif melalui visi, strategi, dan eksekusi yang kita lakukan.

Dia mengatakan upaya mewujudkan visi hidup diperlukan sebuah langkah proaktif. Tidak ada yang datang tiba-tiba.

Semua memerlukan usaha dan melewati tahapan proses. Oleh karena itu, penguatan kualitas sikap proaktif dan daya inisiatif sangat diperlukan untuk transformasi kita ke depan.

"Ketujuh nilai tersebut bisa menjadi pilar budaya kemajuan. Budaya kemajuan ini diperlukan untuk merespons perubahan. Kemajuan secara kultural sangatlah penting bagi konstruksi kemajuan secara material, seperti teknologi, infrastruktur, ekonomi, dan bangunan fisik lainnya," tutur Arif.

Arif mengatakan kemajuan bangsa mesti ada kekuatan kombinasi kultural material sekaligus. Seluruh dimensi kemajuan tersebut didasari kerangka spiritualitas yang kuat, sehingga iman dan takwa tetap menjadi fondasi pokok.

Baca: Legislator Sebut Idulfitri Energi Baru Membangun Masa Depan
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id