Pakar UGM Bongkar Mitos dan Fakta Penyakit Epilepsi

    Arga sumantri - 09 April 2021 10:27 WIB
    Pakar UGM Bongkar Mitos dan Fakta Penyakit Epilepsi
    Ilustrasi. Dok UGM.



    Yogyakarta: Bagi sebagian kalangan masyarakat, Epilepsi masih dianggap sebagai penyakit gangguan jiwa dan bisa menular. Padahal, sebenarnya justru sebaliknya, epilepsi adalah penyakit gangguan saraf otak dan tidak menular. 

    Hingga saat ini, diperkirakan ada sekitar 50 juta orang penderita epilepsi di dunia. Bahkan, di Indonesia ada 1,5-2,4 juta orang penderita epilepsi pada 2013. Meski begitu, 20 persen kasus epilepsi  tidak direspons dengan pengobatan.






    Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Fajar Maskuri mengatakan, masih ada mitos di masyarakat yang beranggapan bahwa epilepsi bisa menular. Sehingga, ketika menemukan penderita yang tengah kejang tidak ditolong karena khawatir tertular.  

    "Sebenarnya epilepsi adalah gangguan saraf otak sehingga harus dirawat oleh dokter saraf. Meski bersentuhan kulit atau terkena air liur si penderita saat kita menolong itu tidak akan tertular. Minimal mengamankan pasien terkena cedera saat kejang," kata Fajar mengutip siaran pers UGM, Jumat, 9 April 2021.

    Baca: Vaksin Masih Langka, Vaksinasi Guru Belum Bisa Tancap Gas

    Fajar mengatakan epilepsi bukanlah gangguan jiwa, meski ada gangguan kognitif dan kecerdasan di bawah rata-rata. Meski sulit diajak berkomunikasi dengan baik, akan tetapi penderita epilepsi sebenarnya bisa sembuh bila mendapat penanganan yang tepat. 

    "Jika tidak diobati segera maka akan terjadi kerusakan otak lebih berat, semakin sering kejang maka sel-sel di otak akan banyak yang rusak sehingga perlu segera diobati ke dokter saraf," paparnya.

    Selain itu, masih ada beberapa anggapan di masyarakat yang menyebutkan bahwa penderita epilepsi tidak boleh menikah karena khawatir keturunannya akan mengalami penyakit serupa. Kenyataannya, penderita epilepsi tetap boleh menikah. 

    "Tidak ada larangan apalagi memiliki keturunan. Namun, bagi wanita jika hamil harus dikontrol dokter saraf dan dokter kandungan," ungkapnya.

    Hal senada juga disampaikan dokter spesialis saraf dari RS Sardjito Atitya Fitri Khairani. Menurutnya, penting bagi penderita epilepsi untuk rutin minum obat dalam waktu lama karena terjadi gangguan kelistrikan di otak. 

    "Saat serangan epilepsi, ada kejadian muatan listrik berlebihan di otak. Meski penyakit ini tidak menular, namun membutuhkan pengobatan intensif dan waktu yang panjang," ungkap Atitya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id