Aplikasi Dosen ITS, Kini Angkot Tak Perlu Ngetem

    Ilham Pratama Putra - 27 Januari 2020 16:32 WIB
    Aplikasi Dosen ITS, Kini Angkot Tak Perlu <i>Ngetem</i>
    Dosen ITS, Erma Suryani ST MT PhD dengan aplikasi buatannya. Foto: ITS/humas
    Jakarta:  Tim dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan inovasi aplikasi bernama Intravtas User dan Intravtas Driver.  Aplikasi tersebut diperuntukkan untuk mengatasi masalah kemacetan yang biasa terjadi di kota besar, salah satunya Surabaya.

    Aplikasi tersebut merupakan kolaborasi antara Erma Suryani ST MT PhD, Rully Agus Hendrawan SKom MEng, dan Arif Wibisono SKom MSc yang merupakan dosen Departemen Sistem Informasi ITS bersama guru besar Departemen Matematika ITS Prof Dr Basuki Widodo MSc.

    Dengan memanfaatkan model simulasi dan Information and Communication Technologies (ICT), tim merancang aplikasi yang dapat mendeteksi keberadaan pengguna angkot, memonitor ketersediaan angkutan umum, dan memberikan navigasi lalu lintas.  “Aplikasi tersebut memanfaatkan sistem GPS dan Maps,” jelas Erma dikutip dari laman ITS, Senin, 27 Januari 2020.

    Tampilan informasi halte terdekat, jumlah penunggu, dan profil angkutan kota pada Intravtas Driver (Pengemudi Angkot)

    Dosen yang pernah menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) ITS itu memaparkan, aplikasi tersebut bekerja dua arah.  Dalam layanan tersebut tersedia dua pilihan aplikasi untuk penumpang dan juga sopir angkutan umum.

    Instrastav User diperuntukkan bagi penumpang, melalui aplikasi tersebut calon penumpang dapat mengidentifikasi lokasi terkini angkutan umum terdekat. “Tidak perlu lagi penumpang menunggu tanpa kepastian di pinggir jalan seperti yang selama ini terjadi,” ujarnya.

    Menurut Erma, hal yang membuat penumpang enggan menggunakan transportasi umum seringkali dikarenakan waktu tempuh angkutan umum yang tidak bisa diprediksi. Contohnya untuk angkutan kota (angkot) seringkali menunggu penumpang penuh (ngetem) baru beroperasi atau jalan.

    “Dengan aplikasi Intranstav Driver, sopir juga tidak perlu lagi menunggu lama karena sudah terlihat di mana lokasi penumpang yang hendak naik,” tuturnya.

    Alumnus S1 Teknik Elektro ITS tersebut mengungkapkan, penyebab utama kemacetan adalah volume kendaraan yang terlalu padat. Padatnya volume tersebut dikarenakan pengguna jalan raya tidak tertarik untuk memakai alat transportasi umum, sehingga banyak yang menggunakan kendaraan pribadi.

    “Dengan adanya aplikasi ini, akan lebih menarik pengguna jalan untuk menggunakan transportasi umum,” klaimnya.

    Tampilan informasi halte terdekat dan ketersediaan angkutan kota (angkot) pada Intravtas User.  Bagi Erma, aplikasi yang sudah dikembangkannya sejak 2018 ini menyasar angkutan umum lyn dan bus kota.

    Dua transportasi umum tersebut mendukung terwujudnya tiga poin yang menjadi tujuan aplikasi ini. Poin pertama adalah economic sustainability yang menjadikan arus transportasi Surabaya menjadi lebih efektif dan efisien. “Dengan kata lain, kemacetan akan berkurang,” imbuhnya.

    Kemudian, lanjut Erma, poin kedua adalah social sustainability. Hal tersebut berarti solusi yang ditawarkan dapat menjangkau semua kalangan masyarakat.

    Transportasi yang dipilih pun merupakan angkutan umum yang biayanya sangat terjangkau dan rute yang menjangkau hingga jalanan sempit. “Kami memanfaatkan alat transportasi yang sudah beroperasi sejak lama dan sudah dikenal masyarakat,” jelas alumnus S2 Teknik Industri ITS dan S3 Industrial Management NTUST, Taiwan ini.

    Lalu, poin ketiga yakni environmental sustainability yang merupakan efek terbesar yang ingin dicapai.  Yakni berkurangnya emisi karbon dioksida (CO2) seiring dengan berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi.

    “Selain itu, apabila peminat angkutan umum itu meningkat pesat, besar kemungkinan kualitas angkutan akan di-upgrade menjadi lebih nyaman oleh pemerintah,” harapnya.

    Aplikasi yang sudah disosialisasikan kepada perwakilan pengguna dan pengemudi angkutan umum Surabaya ini telah menjalin kerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Erma dan tim berharap bahwa ke depan akan ada kerja sama antara ITS, Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Google (sebagai penyedia layanan APl), serta provider telekomunikasi sebagai penyedia paket data agar sistem ini dapat dinikmati oleh pengemudi angkot dengan biaya yang sangat terjangkau.

    Lebih lanjut, Erma mengatakan, aplikasi ini diharapkan dapat membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menanggulangi kemacetan dan tingginya volume kendaraan pribadi untuk mewujudkan Kota Surabaya yang bebas macet. 



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id