Menristek Dorong Hilirisasi Riset Obat Modern Asli Indonesia

    Intan Yunelia - 09 Januari 2020 19:56 WIB
    Menristek Dorong Hilirisasi Riset Obat Modern Asli Indonesia
    Foto: Kemenristek/Humas
    Jakarta:  Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung adanya pengembangan riset Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) atau fitofarmaka. Pasalnya, produk OMAI ini dihasilkan dari bahan baku dalam negeri.

    "Langkah ini merupakan wujud hilirisasi industri seperti yang diharapkan oleh pemerintah. Saya apresiasi Dexa Group yang telah menghasilkan produk riset dan teknologi yang inovatif berbahan baku keanekaragaman sumber daya biodiversitas asli Indonesia," kata Menristek/ Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro dalam siaran pers, Kamis, 9 Januari 2020.

    Tentunya, kata Bambang, ini menjadi peran pemerintah untuk membantu hilirisasi industri agar semakin banyak dikonsumsi.  "Dalam hal ini kami akan mengusulkan penggunaan obat-obatan fitofarmaka di program kesehatan pemerintah," kata Bambang.

    Bambang saat mengunjungi Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DBLS) itu juga memberikan arahan khusus terkait pengembangan obat fitofarmaka di industri farmasi Indonesia. Salah satunya fokusnya pada penyakit yang banyak terdapat di Indonesia.

    "Dengan adanya pengelompokan penyakit bisa difokuskan kebutuhan riset obat yang dibutuhkan," ujar Bambang.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif DLBS Raymond Tjandrawinata menyebutkan, sebagai organiasi riset bahan alam saat ini DLBS sudah menghasilkan 18 produk berizin edar Fitofarmaka dari 26 produk fitofarmaka di Indonesia. Upaya itu merupakan langkah mendorong kemandirian bahan baku obat nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

    "Melalui DLBS, Dexa Group melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan ketersediaan farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang berasal dari makhluk hidup. Di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari DLBS ini menghasilkan 18 produk berizin edar fitofarmaka dari 26 produk berizin edar Fitofarmaka di Indonesia," jelas Bambang.

    Saat ini DBLS sendiri telah menghasilkan OMAI di antaranya Inlacin yakni produk obat diabetes fitofarmaka berbahan baku bungur dan kayu manis yang telah diekspor ke Kamboja dan Filipina. Selain itu, produk fitofarmaka lainnya adalah Redacid berbahan baku kayu manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung. 



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id