Bahasa Dalam Sosialisasi Protokol Kesehatan Covid-19 Dinilai Rumit

    Ilham Pratama Putra - 01 Desember 2020 20:03 WIB
    Bahasa Dalam Sosialisasi Protokol Kesehatan Covid-19 Dinilai Rumit
    Siswa cuci tangan sebelum masuk ke dalam kelas. Foto: Dok. Kemendikbud
    Jakarta: Kasus postif covid-19 kembali meningkat di Indonesia. Hal ini salah satunya ditengarai oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai bahasa yang diterapkan dalam sosialisasi protokol kesehatan.

    Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Aminuddin Aziz, kurangnya pemahaman masyarakat disebabkan oleh materi sosialisasi yang kurang dapat dicerna. Sosialisai dilakukan dengan bahasa-bahasa yang sulit diterima masyarakat awam.

    "Masih tingginya angka korban Covid-19 patut diduga salah satu faktornya terkait dengan ketidakmengertian masyarakat tentang bahaya pandemi ini. Bahasa dan istilah yang digunakan terlalu asing bagi mereka, sehingga mereka menjadi acuh tak acuh," ujar Aziz pada Webinar Peluncuran Pedoman Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan 3M Dalam 77 Bahasa Daerah, Selasa 1 Desember 2020.

    Baca juga:  Tiga Guru SMP di Kudus Meninggal Akibat Covid-19

    Untuk itu, pihaknya membuat pedoman prokes dengan 77 bahasa daerah dari 30 provinsi. Pembuatan pedoman ini diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam implementasinya di lapangan.

    "Perlu kami sampaikan, bahwa proses penerjemahan naskah ini dilakukan melalui tahapan yang sangat hati-hati guna menjamin hasilnya," ujar Aziz.

    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim juga menilai bahasa yang digunakan dalam sosialisasi pencegahan penyebaran virus korona terlalu rumit.  Masyarakat seluruh penjuru Indonesia dinilai kesulitan memahami kampanye pemerintah tentang pencegahan penyebaran virus tersebut.

    "Pencegahan penyebaran covid-19 masih perlu ditingkatkan. Bahasa yang (saat ini digunakan)  terlalu tinggi atau rumit," kata Nadiem.

    Menurut Nadiem, penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu adalah model pendekatan yang sarat emosional. Nadiem berharap penerjemahan ke bahasa daerah terkait pandemi ini dapat membuat masyarakat tergerak untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

    "Saya menyambut baik dan mengucapkan terima kasih atas inisiatif yang diambil oleh Kepala Badan bahasa, bekerja sama tim Satgas penanganan covid 19 ini, semoga upaya kita untuk menghentikan penyebaran covid-19 ini mendapatkan kemudahan dari Allah Yang Maha Kuasa," tutup Nadiem. 

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id