FKUI Ikut Uji Klinis Perawatan Covid-19 Terbesar di Dunia

    Citra Larasati - 19 Februari 2021 11:45 WIB
    FKUI Ikut Uji Klinis Perawatan Covid-19 Terbesar di Dunia
    Peneliti Utama FKUI, Erni Juwita Nelwan. Foto: Dok. UI
    Jakarta:  Uji Acak Evaluasi Terapi Covid-19 (The Randomised Evaluation of Covid-19 Therapy) atau yang disebut studi 'Recovery' akan segera dilaksanakan di Indonesia.  Recovery merupakan sbuah uji klinis terbesar di dunia untuk mengevaluasi pengobatan covid-19.

    Peneliti Utama dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, SpPD-KPTI, FACP, FINASIM, menjadi Kepala Studi Recovery di Indonesia.  Erni mengatakan, bahwa studi Recovery yang dilaksanakan di Inggris sebelumnya telah membantu Indonesia untuk merencanakan sumber dayanya lebih efektif.

    "Misalnya, klorokuin/hidroksiklorokuin tidak lagi direkomendasikan untuk mengobati covid-19 dan obat deksametason telah masuk dalam rekomendasi pengobatan covid-19 di RS di Indonesia," kata Erni, Jumat, 19 Februari 2021.

    Studi Recovery pertama kali dilaksanakan di Inggris pada Maret 2020 untuk mengevaluasi pengobatan mana yang paling efektif untuk melawan covid-19.  Studi ini telah memberikan rekomendasi yang sudah mengubah perawatan klinis, termasuk temuan bahwa steroid dengan harga terjangkau, deksametason, dan pengobatan antiinflamasi, tocilizumab, secara signifikan mengurangi risiko kematian ketika diberikan kepada pasien rawat inap dengan covid-19 berat.

    Rekomendasi ini kemudian digunakan pada praktik klinis di seluruh dunia untuk membantu menyelamatkan nyawa pasien dan memprioritaskan sumber daya perawatan kesehatan.  Pelaksanaan studi Recovery di Indonesia merupakan salah satu hasil dari kemitraan yang sudah terjalin lama antara FKUI dan Oxford University.

    Selain itu juga dukungan dari berbagai mitra penelitian dan rumah sakit di Indonesia. Universities of Indonesia and Oxford Clinical Research Laboratory (IOCRL), sebuah fasilitas pendukung uji klinik bersama di Jakarta yang juga merupakan hasil dari kemitraan dua lembaga tersebut, akan membantu proses pelaksanaan dan koordinasi studi ini di Indonesia.

    Sementara itu, rumah sakit pertama yang bergabung dengan studi RECOVERY di Indonesia adalah RS Metropolitan Medical Centre (MMC) Jakarta, RS Martha Friska Medan, dan RS Hasan Sadikin Bandung, dan beberapa RS lainnya akan segera bergabung.

    Di Indonesia, studi akan diawali dengan mengevaluasi penggunaan aspirin dan kolkisin, karena obat ini sudah tersedia dan terjangkau, namun seperti pelaksanaan studi Recovery di Inggris, uji coba ini bersifat adaptif dan obat baru akan ditambahkan seiring waktu.

    Menteri Kesehatan, dalam kesempatan ini diwakili oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes, Slamet mengatakan, uji klinis Recovery sangat penting untuk menemukan pengobatan  covid-19 yang efektif dan dapat digunakan di seluruh dunia.

    Baca juga:  Kasus Aktif Covid-19 Usia Pelajar Terbanyak di Pulau Jawa

    Meneliti obat yang terjangkau dan mudah diakses, berarti hasilnya dapat dimanfaatkan dengan cepat di Indonesia dan negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya. "Kami sangat bangga bahwa para peneliti Indonesia berperan serta dan menjadi bagian dari sebuah uji klinis penting di dunia," ujar Erni.

    Dekan FKUI, Ari Fahrial Syam mengatakan, bahwa FKUI sangat senang dapat menjadi bagian dari tim peneliti studi Recovery.  "Saya berharap dengan berpartisipasi pada uji klinis obat Covid-19 terbesar di dunia ini, para peneliti Indonesia bisa membuat terobosan-terobosan yang relevan dengan konteks Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya," terang Ari.

    Kemudian Rektor UI,Ari Kuncoro memberikan atas apresiasi keterlibatan para peneliti FKUI dalam uji klinis Recovery di Indonesia. Sejak awal Covid-19 muncul di Indonesia, UI secara aktif terlibat dalam berbagai penelitian, medis, dan sosial.

    UI juga berkolaborasi dengan banyak pihak, di dalam maupun di luar negeri, termasuk dengan University of Oxford. “Kami berharap melalui kontribusi ini dan dukungan dari masyarakat Indonesia, UI bisa mendukung percepatan pemulihan kondisi Indonesia," kata Ari.

    Sementara itu Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K. Lukito mengatakan, BPOM selalu menyambut baik dan mendukung penelitian uji klinik dan mendukung upaya FKUI untuk ambil bagian dalam uji klinis yang bersifat internasional ini.  Harapannya, dapat mengembangkan kemampuan bangsa kita dalam mengembangkan vaksin dan obat sehingga dapat membangun kemandirian industri farmasi Tanah Air.

    "BPOM siap mendukung dan menfasilitasi FKUI, mulai dari persetujuan pelaksanaan uji klinis (PPUK), perizinan, mendampingi dalam monitoring uji klinik, sampai ke hasilnya nanti," tutupnya.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id