comscore

Pakar Animal Welfare Unair Ungkap Dampak Kekerasan Seksual pada Hewan dan Pemulihan Trauma

Renatha Swasty - 18 Mei 2022 15:21 WIB
Pakar Animal Welfare Unair Ungkap Dampak Kekerasan Seksual pada Hewan dan Pemulihan Trauma
Pakar Animal Welfare Kedokteran Hewan Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga (Unair) Prima Ayu Wibawati. DOK Unair
Jakarta: Tindak kekerasan seksual terhadap hewan masih terus terjadi. Bahkan, belum terlihat upaya konkret dalam penanganannnya. 

Mulai kasus pemerkosaan biawak di India, eksploitasi seksual pada orang utan, hingga pencabulan kucing. Pakar Animal Welfare Kedokteran Hewan Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga (Unair) Prima Ayu Wibawati menegaskan semua tindakan kekerasan seksual pada hewan yang menjadi objek, bukan kesalahan hewan. 
“Hewan tidak memiliki akal pikiran, hewan hanya memiliki nafsu bereproduksi dan memuaskan perut. Seharusnya manusia yang bertugas menyejahterakan hewan,” kata Prima dikutip dari laman unair.ac.id, Rabu, 18 Mei 2022.

Prima menuturkan kekerasan seksual berdampak besar pada fisik, psikologis, dan perilaku hewan yang menjadi korban. Penganiayaan seksual akan membuat organ reproduksi bermasalah. 

"Selain itu, hewan akan memiliki rasa trauma dan stres secara terus menerus,” kata dia. 

Bahkan, kata dia, dalam beberapa kasus, kemauan seksual hewan berkurang sampai trauma hilang akibat terhambatnya hormon rangsangan. Dia menegaskan kekerasan seksual pada hewan adalah bentuk pelanggaran terhadap seluruh prinsip animal welfare yang berdampak pada psikologis berujung traumatik mendalam. 

“Hewan tersebut mengalami kesakitan, tidak bisa melakukan berbagai kegiatan alaminya, lima prinsip animal welfare terlanggar, efek traumatis membuat hewan sulit terkontrol dan dapat mencederai manusia akibat rasa takutnya,” tutur dia. 

Prima menuturkan upaya pemulihan dapat dilakukan dengan merawat hewan korban kekerasan seksual pada tempat rehabilitasi yang dikelola organisasi nasional maupun internasional. Hal itu sebagai penanganan hewan sementara. 

“Ada kasus hewan yang trauma terhadap perilaku manusia, maka pola hidupnya berbeda dan jika dibebaskan tidak bisa bertahan hidup,” beber dia.

Dia menyebut rehabilitasi tidak harus mengembalikan hewan pada alam liar. Prima mengatakan pengembalian bergantung kondisi memungkinkan atau tidak. 

Prima mengatakan yang perlu diperhatikan pada penanganan hewan kekerasan seksual harus menghindari kontak langsung. Hal itu untuk mengurangi efek trauma pada manusia. 

“Manusia atau keeper yang langsung berhubungan dengan hewan yang terluka harus membatasi diri dengan tidak kontak langsung. Misalnya, dengan menyembunyikan bahu,” ujar dia.

Hal tersebut juga untuk mengurangi rasa trauma hewan. Sehingga tidak terlalu bergantung pada perlakuan keeper ke depan. 

Prima mengatakan kekerasan seksual pada hewan merupakan perilaku menyimpang. Hal itu terjadi akibat dua sudut pandang, yaitu hukum dan psikologi. 

“Manusia yang berani berbuat (kejahatan seksual) pada hewan perlu dicek terlebih dahulu kejiwaannya pada psikiater, sedangkan hukum sepatutnya diperkuat dengan mementingkan prinsip animal welfare,” tegas dia. 

Sehingga, hukum menjadi aspek yang paling berwenang dalam mencegah terjadinya kekerasan pada hewan. “Yang berwenang adalah hukum. Tapi, efek hukum (sekarang) untuk tindakan kekerasan pada hewan belum menjurus ke situ. Ke depan, perdagangan ilegal, kekerasan seksual perlu diatur undang-undang untuk mempertimbangkan putusan,” tutur dia. 

Prima mengungkapkan lemahnya efek hukum dan penegakannya sekarang ini membuat banyak orang perlu mendesak aparat untuk bergerak. Relawan dan organisasi peduli hewan harus berani mengutarakan suara bila menemukan kasus kekerasan pada hewan. 

"Agar kasus dapat ditindaklanjuti aparat penegak hukum. Sedangkan counter pendidikan harus dilakukan melalui penyuluhan penyalahgunaan hewan pada masyarakat secara luas,” tutur dia. 

Baca: Waduh, Lansia Malaysia Dituntut atas Pelecehan Seksual Kucing



(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id