Demo Tolak Omnibus Law

    Kemendikbud Bakal Tegur Dosen yang Janjikan Nilai A untuk Pedemo

    Ilham Pratama Putra - 08 Oktober 2020 20:04 WIB
    Kemendikbud Bakal Tegur Dosen yang Janjikan Nilai A untuk Pedemo
    Demo menolak Omnibus Law di Surabaya. Foto: Medcom.id/Amaluddin
    Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bakal menegur dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang menjajikan akan memberi nilai kepada mahasiswa yang ikut demo tolak Omnibus Law.   Teguran akan disampaikan kepada rektor perguruan tinggi yang bersangkutan.

    "Kita ingatkan rektornya," kata Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Nizam kepada Medcom.id, Kamis 8 Oktober 2020.

    Menurutnya, apa yang dilakukan dosen tersebut tidak dapat dibenarkan. Seharusnya dosen sebagai tenaga pendidik bisa mengarahkan mahasiswa untuk melakukan kajian dan menyampaikan aspirasi lewat jalur hukum.

    "(Yang bersangkutan) Bukan pendidik yang baik," sambung Nizam.

    Sebagai lembaga ilmiah, kata Nizam, kampus harusnya melakukan pendekatan dan kajian akademik. Para intelektual kampus maju tanpa mendorong aksi turun ke jalan.

    "Mestinya kampus sebagai pusat intelektualitas bangsa melakukan telaah kritis atas produk perundangan dan menyampaikannya ke DPR dan Pemerintah.  Bila perlu melalui jalur hukum seperti Mahkamah Konstitusi. Mestinya mendalami dulu isi RUU-nya, tidak malah turun ke jalan. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini," tegas Nizam.

    Baca juga:  Dosen Janjikan Nilai A Bagi Mahasiswa Demo Tolak Omnibus Law

    Sebelumnya, Dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Umar Sholahuddin menjanjikan akan memberi nilai A kepada mahasiswanya yang ikut demontrasi menolak Omnibus Law. Pengumuman itu diunggah Umar dalam akun Facebook-nya Rabu, 7 Oktober 2020.
     
    "Buat mahasiswa saya yg ikut demo Tolak UU Cilaka bersama buruh tuk mata kuliah Gersos & pembangunan saya kasih nilai A #TolakUUCilaka" tulis Umar dalam unggahannya.
     
    Dikonfirmasi mengenai unggahannya tersebut, Umar membenarkan akan memberi nilai A kepada mahasiswanya yang ikut demo Kamis, 8 Oktober 2020.

    Umar menyebut, ada dua alasan perlunya mahasiswa ikut aksi menolak UU Cipta Kerja, pertama UU tersebut berdampak kepada mahasiswa sendiri jika nanti mereka lulus dan bekerja. "UU Omnibus Law tidak hanya berdampak bagi buruh, tapi bagi elemen lainnya termasuk mahasiswa saat nanti dia bekerja," kata Umar.
     
    Alasan kedua, turun aksi untuk menyikapi realitas sosial adalah pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa yang merupakan agent of change."Dari pada hanya belajar di kelas atau daring, turun ke jalan menurut saya lebih efektif, agar mereka ikut merasakan perjuangan rakyat," kata Umar.

    Meski begitu, dia tetap mengingatkan mahasiswanya untuk tetap menaati protokol kesehatan saat turun jalan. "Menjaga jarak dan memakai masker wajib dilakukan saat aksi turun jalan," pungkas Umar.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id