comscore

Ekspedisi Muhibah Jalur Rempah Akan Diajukan Jadi Warisan Budaya Dunia ke UNESCO pada 2024

M Iqbal Al Machmudi - 21 Juni 2022 14:14 WIB
Ekspedisi Muhibah Jalur Rempah Akan Diajukan Jadi Warisan Budaya Dunia ke UNESCO pada 2024
KRI Dewaruci yang membawa peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah melintas di Selat Madura, Jawa Timur, Rabu, 1 Juni 2022. ANT/Didik Suhartono
Jakarta: Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 yang diinisiasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencetak sejarah. Kegiatan itu mempertemukan empat Kesultanan Maluku Kie Raha, yaitu Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Pertemuan dilakukan saat jamuan makan malam di atas geladak KRI Dewaruci yang bersandar di Pelabuhan Trikora, Tidore, 15 Juni 2022. Pertemuan empat kesultanan ini menjadi sejarah sebab merupakan pertemuan pertama setelah sekian lama.
Di atas geladak kapal, empat kesultanan tersebut merundingkan dan membahas tentang pemajuan kebudayaan Maluku Kie Raha sebagai kepulauan rempah-rempah yang menjadi percontohan daerah-daerah di provinsi lain.

Jamuan turut dihadiri Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid; Direktur Pemanfaatan dan Kebudayaan Restu Gunawan; Direktur Perfilman, Musik, dan Media Ahmad Mahendra; serta pejabat setempat.

"Pertemuan empat kesultanan ini merupakan peristiwa bersejarah. Kehadiran kami di geladak KRI Dewaruci merupakan pengulangan 500 tahun lalu nenek moyang kami naik ke kapal Galleon Belanda,” kata Sultan Ternate Hidayatullah Sjah dikutip dari Mediaindonesia.com, Selasa, 21 Juni 2022.

Hidayatullah memaparkan pada 1322 bangsa Ternate membangun peradaban, memperluas peradaban dengan membangun penataan pemerintahan yang lebih lengkap dengan membentuk konfederasi bernama Moluku Kie Raha, dan menggabungkan tiga saudara menjadi satu di dalam Konferensi Moti.

"Saya yakin pada masa mendatang bahwa akan datang satu fase di mana peradaban gemilang kami akan kembali,” tutur dia.

Perdana Menteri Sultan Bacan, Mochdar Salim Arief, mengatakan pertemuan empat sultan di atas KRI Dewaruci juga menjadi bagian dari sejarah perjalanan rempah.

"Perjalanan rempah telah dilaksanakan di sini, ada beberapa pulau yang meliputi berbagai suku dan ini disertai pula dengan adanya diplomasi. Dari diplomasi inilah muncul tata krama,” jelas Mochdar.

Keempat sultan mengapresiasi ekspedisi Muhibah Budaya Jalur Rempah karena telah mengimplementasikan masing-masing kerajaan. Kerajaan-kerajaan akhirnya bisa hadir dan merepresentasikan budaya.

“Di Tidore ini, kami berterima kasih dengan agenda Muhibah Budaya Jalur Rempah yang telah mempertemukan kita semua. Inilah yang jarang sekali terjadi, kami akhirnya duduk di meja bersama, momen yang jarang sekali terjadi, empat kerajaan ini duduk bersama,” kata Jou Mayor Kesultanan Tidore Iskandar S Alting.

Hilmar mengapresiasi agenda pertemuan raja yang dihelat di lokasi bersejarah penghasil rempah. Dia mengingatkan upaya yang kini sedang dilakukan pemerintah pusat juga perlu dibantu setiap elemen masyarakat, termasuk empat kerajaan ini.

“Upaya untuk melakukan pelestarian budaya itu adalah upaya bersama. Pemerintah pusat tidak akan bisa berjalan sendiri dan memerlukan upaya bersama terus menerus, meningkatkan kolaborasi, karena harapan saya tentu pertemuan yang baik ini menjadi titik awal untuk sama-sama melihat proses yang akan gemilang ke depannya,” jelas Hilmar.

Hilmar menyebut program ini sangat penting, di mana pihak kesultanan bisa menceritakan kisah-kisah sejarah dan berbagai hal pada anak-anak sekolah. Dia menyebut pihaknya sedang merancang muatan lokal dalam pendidikan, sejarah budaya, dan muatan adat, kesenian, dan tradisi menjadi bagian gaya hidup anak-anak sehari-hari.

"Tentunya ke depan akan diperlukan fasilitas dan hal ini hanya mungkin terjadi apabila energi ini bisa tertancap dan kemudian diteruskan dengan semangat yang sudah kita bangun ini,” tutur Hilmar.

Maluku Kie Raha adalah istilah untuk menyebut empat kerajaan di Maluku pada zaman bahari yang sangat berpengaruh secara politis dan ketatanegaraan. Yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan yang merupakan titik penting dalam jalur pelayaran rempah.

Saat ini, pemerintah sedang berupaya mengajukan jalur rempah sebagai Warisan Budaya Dunia yang diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di 2024. Jalur rempah ini bukan hanya kenangan terhadap masa lalu tetapi juga memiliki arti penting untuk mengaktualisasikan jalur rempah di masa sekarang.

Muhibah Budaya Jalur Rempah dimulai 1 Juni 2022 hingga 2 Juli 2022 dengan menggunakan kapal legendaris KRI Dewaruci milik TNI AL. Kegiatan ini menyusuri enam titik Jalur Rempah, yakni Surabaya, Makassar, Baubau dan Buton, Ternate dan Tidore, Banda Neira, Kupang. Dari Kupang, KRI Dewaruci akan kembali ke Surabaya.

Baca:Pesan Raja Banda untuk Laskar Rempah di Muhibah Budaya Jalur Rempah

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id