Cara UGM Memperlakukan Mahasiswa Papua

    Patricia Vicka - 22 Agustus 2019 13:01 WIB
    Cara UGM Memperlakukan Mahasiswa Papua
    Mahasiswa Papua di UGM tengah mendapat bimbingan di GT Papua. Foto/Dok.UGM.
    Yogyakarta:  Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan pendampingan khusus bagi mahasiswa Papua selama menempuh pendidikan di kampus ini. Salah satu program pendampingan adalah Gugus Tugas Papua.

    Gugus Tugas (GT) Papua dibentuk pada 2013. Kepala Pembentukan GT Papua, Bambang Purwoko mengatakan GT Papua dilakukan sebagai salah satu wujud perhatian dan dorongan positif dari universitas untuk mahasiswanya yang berasal dari Bumi Cendrawasih tersebut.

    "Tujuannya agar para mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dengan baik dan mudah.  Harapannya nanti mereka mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah," ujar Ketua Gugus Tugas Papua, Bambang Purwokodi Yogyakarta, Kamis, 21 Agustus 2019.

    Bambang mengatakan GT terbentuk kaena adanya permasalahan yang kerap dialami mahasiswa Papua. Di awal perkuliahan seluruh mahasiswa Papua sering menemukan kesulitan untuk berkomunikasi.

    Mereka mengalami gegar budaya. Mereka juga mengalami kendala di bidang akademik. Lantaran materi pelajaran yang diberikan di bangku sekolah tidak sama dengan sekolah di pulau Jawa.

    “Semester awal banyak yang kesulitan menangkap penjelasan dosen dan itu sangat wajar, ada perbedaan intonasi dan bahasa yang sangat mendasar. Kita juga harus paham mereka berasal dari daerah dengan lingkungan pendidikan yang berbeda, jadi coaching dan tutoring menjadi hal yang penting,” terang Bambang.

    Baca:  Nyaman Kuliah di Jogja dan Aktif di Kegiatan Masyarakat

    Kegiatan yang dilakukan dalam GT antara lain pengenalan budaya kampus, pemberian motivasi seminggu sekali, serta diskusi kepada mahsiswa Papua. GT juga membuka sesi konsultasi bagi mahasiswa Papua yang menemui kendala.

    GT turut menggandeng (Kemgama) Keluarga Mahasiswa Papua Gajah Mada untuk mengajak mahasiswa Papua agar aktif berorganisasi dan berkontribusi untuk sesama.

    "Bersama Kemgama, mereka bisa mengadakan pentas seni budaya dan bakti sosial. Juga mengadakan seminar soal Papua," terang pengajar di Departemen Politik dan Pemerintahan ini.

    Untuk memastikan kelancaran proses belajar mengajar, GT Papua menginisiasi program pendampingan yang melibatkan mahasiswa nonpapua. Para mahasiswa nonpapua dari masing-masing fakultas diminta mendampingi dan membantu para mahasiswa baru Papua dalam mengikuti proses pembelajaran.

    Program ini mulai dijalankan pada tahun ajaran baru 2019.  "Satu mahasiswa Papua akan didampingi oleh satu orang mahasiswa nonpapua. Tujuannya untuk saling membantu dan mengatasi masalah," ujarnya

    Di samping program ini, Gugus Tugas Papua UGM tengah mempersiapkan wadah yang dinamakan Rumah Inisiasi Bersama Mahasiswa Papua (Rimba Papua) untuk mempermudah komunikasi dengan para mahasiswa. Saat ini jumlah mahasiswa Papua di UGM ada sekitar 50 orang.

    Salah seorang mahasiswa Papua UGM, Arianus menyambut baik rencana pembentukan Rimba Papua. Ia berharap agar Rimba Papua dapat menjadi wadah penyalur bakat, dan karya mahasiswa Papua. 

    "Saya senang kalau ada itu (Rimba Papua). Kita punya karya dan prestasi semoga bisa dikenal orang lain," kata mahasiswa Fakultas Teknik 2016 ini.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id