Provider Diduga Cari Peruntungan Program Subsidi Pulsa Bakal Dilaporkan

    Ilham Pratama Putra - 08 September 2020 15:35 WIB
    Provider Diduga Cari Peruntungan Program Subsidi Pulsa Bakal Dilaporkan
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta: Ombudsman RI bakal melaporkan dua provider atau operator penyedia jasa telekomunikasi, Smartfren dan XL, kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Johnny G Plate. Keduanya diduga menyalahgunakan program subsidi kuota milik Kemendikbud.

    "Kami tentunya akan menyampaikan secara formal kepada Mendikbud juga Menkominfo agar mereka (Smartfren dan XL) diinvestigasi lebih lanjut. Serta memberikan teguran kepada dua operator itu, supaya mereka memberhentikan praktik bisnis yang tidak etis," kata Anggota Ombudsman RI Alvin Lie kepada Medcom.id, Selasa, 8 September 2020.

    Dia menyebut tindakan yang dilakukan Smartfren dan XL seolah meraup keuntungan dari program subsidi pulsa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sebab, mereka berani menjanjikan hadiah tertentu jika sekolah bisa membuat murid dan gurunya menggunakan provider tersebut.

    "Sudah ada surat atau edaran brosur dari dua operator telekomunikasi itu yang memberikan insentif. Kata yang digunakan adalah apresiasi kepada kepala sekolah untuk pembelian kartu perdana yang terdaftar di Dapodik (Data Pokok Pendidikan) yang diaktivasi," jelas Alvin.

    Baca: Provider Gerilya ke Sekolah, Mencari Peruntungan dari 'Subsidi Pulsa'

    Ombudsman khawatir khawatir program subsidi kuota dari Kemendikbud hanya bagian bisnis operator seluler. "Kami khawatir kalau tidak diselesaikan bisa merupakan gratifikasi dan bisa dapat mempengaruhi tekanan dari kepala sekolah kepada siswanya untuk menggunakan jasa operator tertentu meskipun tidak cocok bagi siswa tersebut," jelasnya.

    Menurutnya, pihak provider tak perlu melakukan hal tersebut. Sebagai pemberi layanan publik, provider seharusnya fokus memaksimalkan layanan yang disediakan. Sejauh ini, baru dua operator tersebut diduga berani memberikan insentif jika kepala satuan pendidikan mampu menggiring siswa atau guru menggunakan provider tertentu.

    Ombudsman bakal terus melakukan pemantauan agar tak ada lagi provider nakal yang mencari kesempatan untuk mengakali program yang menyerap anggaran sebesar Rp7,2 triliun itu.

    "Jika ternyata kalau mereka (Smartfren dan XL) tidak kooperatif, agar dipertimbangkan dua operator ini untuk tidak ikut dalam program kuota internet untuk pelajar. Kami sedang mencari bukti lagi, mengumpulkan bukti-bukti lagi apakah hanya dua operator itu atau ada operator lain," ungkapnya.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id