KPAI: Orang Tua Bunuh Anak Karena PJJ Terancam Penjara 20 Tahun

    Citra Larasati - 15 September 2020 21:01 WIB
    KPAI: Orang Tua Bunuh Anak Karena PJJ Terancam Penjara 20 Tahun
    Ilustrasi. Foto: MI
    Jakarta:  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang anak berusia 8 tahun karena kekerasan yang dilakukan orang tua kandungnya di Lebak, Banten.  Anak tersebut meninggal dunia setelah sebelumnya mendapatkan beberapa pukulan karena anak sulit diajarkan saat belajar daring (online).

    Komisioner bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti menyatakan sangat prihatin atas perbuatan kedua orang tua korban yang justru membawa jenazah korban dengan kardus ke Lebak dan dimakamkan sendiri secara diam-diam di TPU desa Cipalabuh.  Jenazah korban tidak dimakamkan secara layak dan sesuai ketentuan agama.

    "Hal tersebut dilakukan demi menutupi kesalahan pelaku yang merupakan orang tua kandung korban atau orang terdekat korban," kata Retno dalam siaran pers, Selasa 15 September 2020.

    Menurut Retno, dalam UU 35/2014 tentang perlindungan Anak, ada ketentuan jika pelaku kekerasan adalah orang terdekat korban, maka pelaku bisa mendapat pemberatan hukuman sebanyak 1/3 kali lebih berat. Dalam kasus ini tuntutan hukuman penjara maksimal 15 tahun dan jika diperberat 1/3 menjadi 20 tahun. 

    Baca juga: Ibu Bunuh Anak Kandung di Lebak, Bukti Lemahnya Self Control

    Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memang membutuhkan bimbingan dan bantuan orang tua di rumah.  Sehingga sudah menjadi tugas ayah dan ibu untuk mendampingi anak saat belajar dari rumah, terlebih di saat pandemi cobvid-19. 

    "Yang utama adalah keteraturan belajar, tidak harus dituntut bisa semua mata pelajaran dan tugas untuk diselesaikan dengan benar atau sempurna," terang Retno, dalam keterangannya, Selasa, 15 September 2020.

    Untuk itu, kata Retno, kesabaran orang tua membimbing anak-anaknya belajar di rumah selama pandemi covid 19 menjadi modal utama agar anak tetap semangat belajar dan senang belajar. "Kalau saat tidak bisa mengerjakan selalu dibentak apalgi dipukul, maka sang anak malah akan mengalami kesulitan memahami pelajaran," ungkap Retno.

    KPAI akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terkait pemenuhan hak pembelajaran dari sekolah anak korban yang ternyata juga memiliki saudara kembar dan bersekolah di sekolah yang sama dengan anak korban.  

    Terkait saudara kembar korban, maka KPAI perlu memastikan pengasuh pengganti selama kedua orang tuanya menjalani proses hukum. Selain itu, KPAI juga akan memastikan saudara kembar korban mendapatkan rehabilitasi psikologis dari P2TP2A Provinsi DKI Jakrta, karena kemungkinan besar melihat peristiwa kekerasan yang dialami korban.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id