comscore

Sosok Richard Oh di Mata Kolega, dari Dee Lestari hingga Joko Pinurbo

Media Indonesia.com - 25 April 2022 19:15 WIB
Sosok Richard Oh di Mata Kolega, dari Dee Lestari hingga Joko Pinurbo
Dewi Lestari (kanan). Foto: Zoom
Jakarta: Sejumlah kolega mengenang sosok aktor, sutradara, penulis, sekaligus sastrawan Indonesia, Richard Oh. Richard meninggal pada Kamis, 7 April 2022 pukul 19.30 WIB.

Penghormatan terhadap Richard Oh ini dilakukan perhimpunan penulis Alinea dengan tema Tribute to Richard Oh. Adapun sejumlah kolega yang menjadi penutur antara lain novelis Dewi (Dee) Lestari, penyair Joko Pinurbo, dan kritikus film Hikmat Darmawan (kritikus film). Dalam acara yang digelar pada Sabtu, 23 April 2022 ini juga ditampilkan testimoni, Pratiwi Juliani, istri Richard Oh.
Sebagai pembuka acara, Sekretaris Presidium Aline, Sekar Chamdy, membacakan proful Richard Oh. Lalu, pembacaan puisi Octavio Paz dan pembacaan sajak dan doa oleh Warih Wisatsana.

Dalam kancah budaya dan literasi, Richard Oh dikenal sebagai pendiri penerbit Metafora, Jurnal Prosa, dan Jakarta Review Book. Dia juga perintis ajang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award) bersama Takeshi Ichiki.

Ketua Presidium Alinea Prof A Margana, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada para kolega yang bersedia memberi testimoni. Dia juga meminta maaf karena Pratiwi berhalangan hadir. 

"Namun, ini tidak menyurutkan rasa kekeluargaan. Mbak Pratiwi menyampaikan beberapa testimoni yang akan dibacakan Mbak Debra H Yatim," kata Margana, melalui keterangan tertulis yang diterima, Senin, 25 April 2022.
 

Testimoni Pratiwi Juliani

Dalam testimoninya, Prawiti membuka kalimat awal sebagai berikut, "Seminggu setelah Richard pergi, saya refleks mengambil telepon dan meneleponnya." 

"Itu menyadarkan saya. Saya kembali ke kampung saya untuk menguburkan suami saya. Saat itu saya menyadari kehilangan cinta, sumber pengetahuan, seni, sastra, perspektif pengetahuan, dan film,” katanya yang dibacakan Debra.

Lantas, pembacaan Debra dilanjutkan, "Begitu banyak kenangan baik. Jejak. Wawasan orang yang bersentuhan dengannya."

“Dunia ini telah lazim bahwa manusia banyak menerima bunga setelah dia mati. Perkataan saya sebelum peti ditutup, pergilah dan berbahagia. Saya mencintai kamu selamanya, selama-lamanya,” katanya menirukan testimoni Pratiwi.
 

Testimoni Dee Lestari

Penulis Dee Lestari juga berkesempatan mengungkapkan testimoninya. Dia memulai kalimatnya begini, “Waktu saya pergi ke rumah duka, ada beberapa teman yang menanyakan. Kok teman-teman sastrawan tidak kelihatan, sementara yang mendominasi teman film."

"Pertama sangat mendadak (kepergian Richard Oh). Tempatnya berjauhan. Rumah duka di Bintaro, rumah saya kebetulan tidak jauh, jadi saya bisa hadir,” katanya.

Menurut Dee, Richard adalah sosok yang di mana dia sedang terjun dan tenggelam, di sanalah ia melebarkan sayapnya. Hal itu merujuk pada keasyikannya saat bergelut di dunia sastra maupun perfilman. 

"Saya bertemu Eka Kurniawan. Itu sudah malam sekali. Konon masih banyak yang berdatangan. Ada dari periklanan. RO (Richard Oh) luar biasa. Dikenal sebagai senior di dunia periklanan." 

"Saya kenal RO ketika ada QB (Toko Buku Quality Buyers milik Richard Oh). QB di Jalan Sunda, Sarinah. Lokasinya dekat dengan Stasiun Gambir. Tempat pertama yang saya datangi RO,” kata dia.

Menurut Dee, RO sangat jujur dan terbuka. Sampai hari inilah sangat dihargai. "Mau di mana pun. Mau bertemu duta besar, pejabat, CEO, dia tetap hadir sebagai RO."

"Bagi saya beliau seperti seorang Abang. Waktu saya di Jakarta belum punya basis, RO bahkan sampai menemani saya beli furniture. Entah bagaimana, dia orangnya sangat spontan."

“Saya juga hadir ketika Richard merilis pertama kali Khatulistiwa Literary Award. Pada 2001 industri buku belum menggeliat seperti sekarang. Book signing di Atrium Plaza Senayan." 

"Ia dekat dengan Takeshi Ichiki, Dirut Plaza Senayan yang jadi sponsor bertahun-tahun. Itu belum pernah terjadi sebelumnya, orang mengantre di sebuah mal untuk acara buku,” kata Dee.
 

Sosok legendaris di mata Hikmat Darmawan

Kritikus film Hikmat Darwaman mengatakan RO merupakan sosok legendaris di kalangan para pegiat literasi. Intensitas RO masih di sastra. 

Namun, Hikmat mencatat ada tiga fase. Pertama advertising hingga 1990-an. Kemudian mengembangkan Toko Buku QB hingga awal 2000. Lalu ada periode film. 
"Di pertengahan 2000-an saya menjadi manajer MP Book Poin. MP Book Poin itu, Haidar (Haidar Bagir, pendiri Toko Buku Mizan) gemes karena lihat QB. Pojokannya. Lihat mal itu tiba-tiba berbudaya. Di QB kebijakannya tidak memplastikkan buku. Richard juga suka nongkrong di situ," kenang Hikmat.

Hikmat mengatakan orang lain membuat toko buku sebagai stok seolah toko kelontong. Sementara Toko Buku QB menjadikan toko buku sebagai ruang bersama. 

"Banyak buku filsafat dan sastra. Kebayang gak dampaknya buat ruang pikir kita sebagai penulis. Ada tempat untuk mengakses pengetahuan. Orang yang seneng buku dialem. Dia punya penghargaan lebih kepada orang yang nanya buku."
 

Testimoni Joko Pinurbo

Sedangkan penyair Joko Pinurbo atau Jokpin mengatakan dirinya jarang bertemu RO. "Saya sempat bertemu beberapa kali di Jakarta, di Plaza Senayan, di QB, di RR, di apartemen Mas Nugroho Suksmanto, lalu di Ubud."

"RO energinya begitu besar bisa menarik seseorang dekat dengan dia," kata Jokpin. 

"Saya merasa seakan bertemu teman lama yang sudah sangat dikenal. Dia punya energi positif luar biasa."

"Ada sisi lain yang melampaui seni dan sastra, khususnya hubungan kemanusiaan antar-pribadi. Saya pengarang dari daerah. Kalau pun di Jakarta saya tidak menjamin akan dekat dengan beliau. Di Yogyakarta pun saya jarang bertemu seniman,” papar Jokpin.

Dia juga menyebutkan kualitas pribadi RO dikenal dari Wien Muldian. "Bicara Wien, bicara Kusala Sastra Khatulistiwa. Kebetulan waktu itu karya saya bersama buku Dee, masuk lima besar pada 2002. Saya pertama kali kenal RO. Penulisan belum dibagi dua kategori seperti sekarang. Beberapa tahun pertama tidak ada pembagianpuisi prosa."
 

Kesaksian Debra Yatim

Kesaksian lain diungkapkan Debra Yatim. Disebutkan, dirinya kenal RO di Toko Buku QB. 

"Dia orang gila. Yang belum disentuh tiga sharer tadi, dia adalah seorang manajer. Dia punya biro iklan yang sukses. Dia terjemahkan ke dalam sastra."


(UWA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id