Politik Anggaran Harus Diarahkan untuk Persiapan Belajar Tatap Muka

    Ilham Pratama Putra - 17 November 2020 13:48 WIB
    Politik Anggaran Harus Diarahkan untuk Persiapan Belajar Tatap Muka
    Siswa di Papua mencuci tangan sebelummasuk kelas. Foto: Kemendikbud
    Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali memberi sinyal untuk membuka sekolah dengan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).  Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta pemerintah menyediakan anggaran, agar sekolah mampu menyiapkan infrastruktur pendukung protokol kesehatan.

    "Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat harus mulai mengarahkan politik anggaran ke pendidikan, terutama persiapan infrastruktur untuk membuka sekolah demi mencegah sekolah menjadi klaster baru," kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo dalam keterangannya kepada Medcom.id, Selasa, 17 November 2020.

    Menurut Heru, persiapan infrastruktur untuk Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di sekolah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu butuh dukungan dana dari pemerintah.

    "Kalau Daerah belum siap, maka tunda dulu buka sekolah, meskipun di daerah itu zonanya hijau," sambungnya.

    Dia mengatakan, kesiapan sekolah dalam menyiapkan protokol kesehatan harus dilakukan, baik secara fisik maupun secara psikis. Kedua persiapan ini harus bisa diukur.

    "Misal kesiapan fisik ukurannya dari thermo gun, wastafel, dengan air bersih yang mengalir, dilengkapi sabun cuci tangan dan tisu, serta cairan disinfektan," ujar Heru.

    Sedangkan untuk kesiapan psikis ialah dengan membangun kesadaran dan disiplin warga sekolah dalam mematuhi protokol kesehatan. Protokol kesehatan diatur mulai dari kedatangan guru di sekolah, siswa di sekolah pada saat mau belajar, siswa yang naik kendaraan umum, hingga layanan Bimbingan Konseling (BK).

    "Perhatian pada layanan perpustakaan, layanan humas, rapat dinas, pengambilan rapor hasil belajar, dan lain-lain juga tak boleh luput dari perhatian," ungkapnya.  

    Persiapan lain yang sangat penting adalah sosialisasi dan memastikan bahwa seluruh protokol kesehatan itu tersampaikan kepada seluruh warga sekolah hingga orang tua siswa. Orang tua siswa harus mempunyai pemahaman yang baik dalam penerapan protokol kesehatan.

    "Mempersiapkan putra putrinya saat mau berangkat dari rumah dengan berbagai pembekalannya, diantar atau dijemput dari dan ke sekolah”, ujar Wakil Sekjen FSGI, Fahriza Tanjung.

    Baca juga:  PGRI: Prioritaskan Guru Honorer yang Telah Lama Mengabdi

    Hal ini juga sejalan dengan imbauan Pemerintah melalui #satgascovid19 yang tak bosan-bosannya mengampanyekan #ingatpesanibu. Jangan lupa selalu menerapkan 3M, yakni #pakaimasker, #jagajarak dan #jagajarakhindarikerumunan, serta #cucitangan dan #cucitanganpakaisabun.

    Selanjutnya, FSGI juga mendorong tes usap atau swab bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan dengan biaya dari APBD dan APBN sebelum memulai pembelajaran tatap muka di sekolah. Tes swab untuk peserta didik dapat dilakukan secara acak atau berdasarkan sampel.

    Saat menjalankan PTM pun Kemendikbud harus menetapkan perubahan standar kurikulum yang disederhanakan. FSGI berharap penyederhanaan kurikulum benar-benar dijalankan dengan baik.

    "Juga harus menetapkan perubahan standar penilaian dan standar kelulusan yang merupakan satu kesatuan dengan standar isi. Karena alasan sekolah enggan menerapkan kurikulum khusus di masa pandemi karena Kemendikbud belum mengubah standar penilaian dan standar kelulusan," ujar Fahriza.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id