Berat Beban PJJ Picu Bunuh Diri pada Anak

    Siti Yona Hukmana - 16 November 2020 07:54 WIB
    Berat Beban PJJ Picu Bunuh Diri pada Anak
    Ilustrasi: Medcom.id
    Jakarta: Setidaknya ada tiga kasus anak bunuh diri selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi virus korona (covid-19). Berat beban PJJ dinilai sebagai pemicu anak nekat mengakhiri hidupnya. 

    Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, mengatakan faktor yang memengaruhi beratnya beban pembelajaran selama PJJ cukup variatif. Pertama karena keterbatasan sarana prasarana. 

    Satriwan mencontohkan kondisi di Kabupaten Agam, Sumatra Barat; Kabupaten Berau, Kalimantan Timur; dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Di daerah-daerah ini sinyal komunikasi relatif masih susah karena terletak di kaki gunung.

    "PJJ-nya luring (putus) sehingga metode yang digunakan guru adalah siswa mengambil tugas-tugas ke sekolah setiap hari lalu membawanya pulang karena kelas belum boleh buka sebab masih masuk zona kuning atau merah (covid-19)," ungkap Satriwan kepada Medcom.id, Senin, 16 November 2020. 

    Faktor kedua ialah masih banyak guru yang tidak memahami kurikulum darurat dan e-modul. Sejatinya, kata dia, dua hal itu dibuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk meringankan beban guru dan siswa, khususnya selama PJJ. 

    Satriwan menjelaskan dalam kebijakan kurikulum darurat ada penyederhanaan materi atau pengurangan kompetensi dasar. Mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) di sekolah menengah pertama (SMP) atau sekolah dasar (SD) yang mulanya delapan menjadi lima materi. 

    "Artinya, pengurangan itu sampai 40 persen materi sehingga semakin sedikit materi yang dipilihkan oleh pemerintah maka sedikit pula yang namanya tuntutan penilaian," ujar Satriwan. 

    Namun, tak semua guru dapat mengaplikasikan kemudahan yang diberikan pemerintah. Satriwan menyebut persoalan itu terjadi di Padang Panjang, Agam, dan Tanah Datar, Sumatra Barat. 

    Baca: FSGI: Kementerian Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Bunuh Diri Siswa

    Dia mengatakan ada musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) untuk tingkat SMP dan sekolah menengah atas (SMA) serta kelompok kerja guru (KKG) untuk SD. MGMP dan KKG itu menjadi ruang diskusi para tenaga pengajar. 

    "Saya tanya apakah di dinas pendidikan atau MGMP atau KKG tidak ada diskusi tentang ini (kurikulum darurat)? 'Tidak dibahas Pak,' katanya karena dari pengawas sekolah, dari dinas pendidikan, pun tidak ada," tutur Satriwan. 

    Satriwan menemukan persoalan tak hanya terjadi pada guru saja. Inti persoalan adanya kekurangan komunikasi dan koordinasi antara dinas pendidikan kota/kabupaten maupun provinsi dengan Kemendikbud. 
     

    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id