New Normal, Kementan Bahas Pendidikan Pertanian dengan Sujiwo Tejo

    M Studio - 31 Mei 2020 20:01 WIB
    <i>New Normal</i>, Kementan Bahas Pendidikan Pertanian dengan Sujiwo Tejo
    Budayawan Sujiwo Tejo (Foto:Dok.Kementan)
    Jakarta: Kebijakan new normal yang menjadi wacana pemerintah Indonesia akibat pandemi covid-19 saat ini perlu ditelaah dengan melibatkan praktisi, akademisi, dan pemangku kebijakan lintas sektor. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian mengundang budayawan Sujiwo Tejo dalam webinar bertajuk Penguatan Peran Pendidikan Pertanian di Era Covid-19 pada Kamis, 28 Mei 2020. 

    “Pandemi covid-19 secara langsung maupun tidak langsung telah meluluhlantakkan sistem pertanian kita saat ini, baik produksi maupun distribusi. Oleh sebab itu, kita harus bekerja sama. Pangan kita tidak boleh bermasalah. Segala upaya sama-sama kita lakukan untuk meningkatkan produksi, baik melalui inovasi teknologi, infrastruktur, serta SDM yang berkualitas,” ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi saat membuka acara. 

    “Dengan segala keterbatasan di tengah pandemi ini, guru, dosen, dan para widyaiswara diharapkan dapat memompa semangat para peserta didiknya dalam mengelola pertanian karena pertanian tidak boleh berhenti,” imbuh Dedi. 

    Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berulang kali menegaskan pentingnya percepatan tanam dan pemanfaatan lahan kosong untuk ditanami tanaman yang cepat panen di masa pandemi covid-19. Selain itu, penguatan peran pendidikan vokasi juga dinilai tak kalah penting guna menghasilkan SDM yang mandiri, profesional, dan berdaya saing. 

    "Covid dan vokasi adalah bagian dari cerita baru dunia, di mana covid mengubah ke arah yang lebih digital dan berbasis teknologi,” kata Mentan.

    Dalam webinar tersebut, Sujiwo Tejo menjelaskan definisi new normal versinya serta menekankan bahwa semua hal yang ada di alam adalah paradoks. Tugas pendidikan adalah bagaimana menghadapi paradoks tersebut. 

    “Menurut versi saya, kondisi new normal yaitu kondisi ketika pertumbuhan atau penyebaran virus setiap harinya stabil di angka yang sama, namun kita tidak bisa kembali ke normal sehingga diterapkanlah new normal ini. Katakan jika new normal yang mungkin bagi pekerja ialah pendapatan berkurang. Pertanyaannya, apakah dengan pendapatan yang berkurang tersebut kita tetap bekerja all out? Saya jadi ingat ajaran Semar yaitu tadah, pradah, ora wegah. Tadah artinya tidak ada doa selain alhamdulillah (bersyukur). Pradah artinya ketika dia komit, dibayar berapa pun dia akan all out. Ora wegah artinya tidak pilih-pilih dan tidak setengah-setengah,” ujarnya.

    Sujiwo menyebutkan semua hal yang ada di alam adalah paradoks. Tugas pendidikan adalah bagaimana menghadapi paradoks tersebut. Hadirnya covid-19 mencontohkan banyak paradoks dalam kehidupan, seperti semakin dekat hubungan dengan seseorang, semakin menjauh. “Paradoks bagi pendidik saat ini ialah bagaimana mereka bisa all out bekerja di tengah pandemi?” katanya.

    “Covid-19 menyadarkan kita bahwa kita (manusia) bukan yang terpenting di alam, tetapi yang berbeda. New normal sektor pertanian ke depan saya harap meskipun sudah menggunakan teknologi canggih, tetap tidak melupakan keseimbangan alam dan mengesampingkan tradisi. Karena tradisi menghidupi sekitar. Kebijakan paling ideal adalah kolaborasi budaya, agama, dan negara,” kata Sujiwo.




    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id