Boleh Tak Mengajar, Bahkan Dosen Dibayar Hanya untuk 'Merenung'

    Citra Larasati - 21 Mei 2019 10:04 WIB
    Boleh Tak Mengajar, Bahkan Dosen Dibayar Hanya untuk 'Merenung'
    Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, Kemenristekdikti/SDID.
    Jakarta:  Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menawarkan program Sabbatical leave kepada para dosen, terutama yang telah memiliki jabatan fungsional profesor.  Melalui program ini, dosen diperkenankan meninggalkan tugas akademik dan administrasi dalam kurun waktu tertentu, namun hak akan gaji dan tunjangan lain tetap dibayarkan loh!

    Program ini, sebenarnya bukan program baru di dunia akademik, terutama pendidikan tinggi.  Sebab di luar negeri, Sabbatical leave sangat lazim diterapkan.

    Tujuannya untuk meningkatkan kecakapan akademik, meningkatkan program penelitian unggulan, benchmarking, serta mengembangkan kemitraan.  "Jadi dalam kurun waktu tertentu, bisa tiga bulan, enam bulan, silakan dosen menggunakannya untuk merenung, berkontemplasi, mengevaluasi hasil kerjanya.  Tidak usah dibebani kewajiban mengajar dan lainnya, tapi tetap digaji," papar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, di Jakarta, Senin, 20 Mei 2019.

    Namun, hasil perenungan tersebut nantinya harus menghasilkan sesuatu, seperti inovasi pembelajaran, gagasan riset, ataupun karya akademik lainnya. "Harapannya setelah merenung dapat menghasilkan inovasi, gagasan, serta karya akademik yang berkualitas," kata guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

    Baca:  Perguruan Tinggi Alami Krisis Kepemimpinan

    Program ini, kata Ghufron, digagas karena melihat banyaknya dosen terutama profesor yang hari-harinya terlalu banyak disibukkan kegiatan mengajar.  Sehingga tidak memiliki waktu untuk mengevaluasi kinerjanya, apalagi menghasilkan karya akademik seperti riset berkualitas. 

    Bagi dosen di Perguruan Tinggi yang berminat untuk mengikuti kegiatan tersebut dapat melakukan pendaftaran dan mengunggah dokumen melalui laman https://kompetensi.sumberdaya.ristekdikti.go.id, dan mengirimkan dokumen proposal ke alamat :

    Direktur Karir dan Kompetensi SDM, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Jalan Jenderal Sudirman, Pintu Satu, Gedung D, Senayan, Jakarta.

    Menurut Ghufron, hingga saat ini sudah ada sekitar 50 dosen yang mengikuti program Sabbatical Leave. Hingga saat ini, Sabbatical Leave hanya diperuntukkan bagi "perenungan" di dalam negeri saja.  "Jadi bisa kemama saja, Pulau Seribu, atau Berau, silakan, asal jangan ke luar negeri," ungkap Ghufron.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id