UGM Kembangkan Prototipe Baterai Nuklir

    Intan Yunelia - 26 November 2019 12:26 WIB
    UGM Kembangkan Prototipe Baterai Nuklir
    Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan saat berkunjung ke Pusat Studi Ilmu Teknik UGM melihat hasil penelitian baterai nuklir. Foto: UGM/Humas
    Jakarta:  Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat prototipe baterai nuklir yang dapat digunakan untuk peralatan elektronik.  Penelitian dilakukan oleh empat dosen dan enam asisten peneliti yang ditinjau langsung oleh Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan.

    Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM. 
    “Ini awalnya dulu didanai oleh beliau (Dahlan Iskan). Beliau ingin agar dari teknologi nuklir Indonesia ada sesuatu yang bisa di-create, tidak hanya teoretis. Ini bukti kami sudah melakukan sesuatu yang ada hasilnya, walaupun masih kecil itu tinggal scale-up saja,” kata Ketua Tim Peneliti, Yudi Utomo Imardjoko dikutip dari laman UGM, Selasa, 26 November 2019.

    Yudi menyebutkan, bahwa dalam dua tahun terakhir, penelitian ini mendapatkan pembiayaan dari Badan Penelitian dan Pengembangan dari Kementerian Pertahanan. Penelitian ini sudah selesai dilaksanakan namun masih belum sempurna, sehingga masih memerlukan pengembangan lebih jauh agar prototipe yang dihasilkan sudah cukup baik jika dibandingkan dengan sebelumnya.

    “Ini kan masih kecil. Efisiensinya masih kecil walaupun cukup tinggi jika dibandingkan dengan tempat lain,” ujar Yudi.

    Ia mengakui, bahwa penelitian ini terkendala biaya komponen plutonium 238 yang cukup mahal karena harus diimpor. Untuk membuat prototipe tersebut, tim harus mendatangkan plutonium dari Rusia yang harga mencapai 8.600 dolar per kepingnya.

    “Harga per keping hanya 12 dolar, tapi begitu sampai sini harganya itu 8.600 dolar per keping,” terangnya.

    Hal itu tentu bisa diatasi jika Indonesia memiliki reactor torium sendiri, karena plutonium merupakan limbah dari torium. Selama ini kebutuhan plutonium harus diimpor dari luar negeri dengan harga mahal karena Indonesia belum memiliki torium sendiri.

    “Sebetulnya kita bisa tidak impor lagi, kalau kita sudah punya reaktor torium. Reaktor torium itu desainnya sudah jadi, dibuat oleh bapak-bapak ahli nuklir ini, kebetulan itu saya yang mendanai. Desainnya sudah jadi, tinggal bagaimana cara mewujudkannya,” papar Dahlan Iskan saat berkunjung ke Pusat Studi Ilmu Teknik UGM.

    Dahlan mengatakan, bahwa selain menggunakan plutorium, baterai ini juga dilengkapi dengan sel surya untuk memperbesar listrik yang dihasilkan.  “Baterai nuklir ini dikonversi secara tidak langsung. Keluarannya kecil maka digabung dengan sel surya supaya semakin besar output-nya,” jelas Elly, salah satu peneliti.

    Pengembangan baterai ini bermula dari ide untuk mencari sumber tenaga yang kecil namun tahan lama. Jika baterai litium setahun atau dua tahun habis, kalau baterai nuklir bisa mencapai 40 tahun.

    Dengan penelitian lebih lanjut, baterai ini dapat dikembangkan untuk menghasilkan luaran yang lebih besar dan memiliki ukuran yang lebih kecil.  Hal itu karena baterai berukuran mikro menurutnya dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

    Dekan Fakultas Teknik, Nizam mengatakan,  pihak fakultas mendorong para peneliti untuk dapat menghilirkan hasil-hasil riset agar tidak sekadar menjadi makalah, namun sungguh-sungguh menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Untuk itu, menurutnya diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah maupun masyarakat, untuk mewujudkan pemanfaatan energi nuklir di Indonesia.

    “Menurut teman-teman salah satu yang potensial adalah torium. Dari sisi teknologi kita sudah menguasai, jadi tidak perlu bergantung kepada impor. Teman-teman juga sudah bisa mewujudkan bagaimana limbahnya nanti bisa dimanfaatkan menjadi baterai,” pungkasnya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id