Mahasiswa Jadi Agen Perubahan Perilaku Bisa Dikonversikan ke SKS

    Ilham Pratama Putra - 13 Oktober 2020 16:30 WIB
    Mahasiswa Jadi Agen Perubahan Perilaku Bisa Dikonversikan ke SKS
    Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Kemendikbud, Nizam. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama
    Jakarta: Mahasiswa yang menjadi agen perubahan perilaku dalam program Satgas Covid-19 akan mendapatkan sejumlah keuntungan, di antaranya adalah apresiasi yang dapat dikonversikan ke dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Sebab dengan turun ke lapangan, mahasiswa dapat membuat laporan kegiatan yang dapat dihitung sebagai SKS.

    "Misal mereka mengamati secara ilmu sosial bisa jadi karya ilmiah mereka mengamati perubahan masyarakat, ada perilaku ekonomi yang bisa diperhatikan, itu adalah bentuk kompetensi yang bisa diakui dengan SKS," ujar Dirjen Dikti Kemendikbud, Nizam, dalam konferensi pers virtual, Selasa, 13 Oktober 2020.

    Bahkan relawan mahasiswa juga bisa mendapatkan insentif dari satgas covid-19. Sebab program perubahan perilaku ini berasal dari satgas covid-19.

    "Dari teman-teman satgas juga ada mungkin sedikit pengganti uang transport," jelas Nizam.

    Namun, dia meminta mahasiswa yang menjadi relawan tidak berorientasi kepada dua keuntungan tersebut. Dia berharap mahasiswa benar-benar tulus untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjalankan protokol kesehatan.

    "Mahasiswa harus bergerak atas kesadaran kontribusi dalam negara," tegas Nizam.

    Baca juga:  Satgas Covid-19 Libatkan 1.800 Mahasiswa Sosialisasikan Perubahan Perilaku

    Sebanyak 1.800 mahasiswa dari 72 perguruan tinggi di Indonesia menjadi relawan satgas covid-19. Mereka bergerak pada bidang perubahan perilaku.

    "Kami melibatkan mahasiswa dalam perubahan perilaku ada 1.800 mahasiswa. Ini misi kemanusiaan," kata Ketua Satuan Tugas Penanganan covid-19 Doni Monardo.

    Mahasiswa akan mendapatkan bimbingan dari pihak satgas maupun dosen pembimbing saat menjadi agen perubahan perilaku di masyarakat. Mahasiswa dipercaya mampu mengubah kebiasaan masyarakat yang belum taat protokol kesehatan.

    "Utamanya meningkatkan kesadaran menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Keberadaan mahasiswa di masyarakat untuk menjelaskan bahwa covid-19 ini nyata dan bukan konspirasi," tutup Doni.

    Hal ini senada dengan kampanye #ingatpesanibu dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 yang menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah penyebaran pandemi virus korona lewat disiplin protokol kesehatan.
     
    Tidak hanya itu, untuk saat 3M menjadi kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus covid-19. Pemerintah melalui #satgascovid19 tak bosan-bosannya mengampanyekan #ingatpesanibu. Jangan lupa selalu menerapkan 3M, yakni #pakaimasker, #jagajarak dan #jagajarakhindarikerumunan, serta #cucitangan dan #cucitanganpakaisabun.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id