Sosialisasi Asesmen Nasional Minim, Guru Terpaksa Cari Tahu Lewat Medsos

    Ilham Pratama Putra - 26 Oktober 2020 14:06 WIB
    Sosialisasi Asesmen Nasional Minim, Guru Terpaksa Cari Tahu Lewat Medsos
    ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
    Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bakal menjalankan Asesmen Nasional (AN) atau Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter untuk menggantikan Ujian Nasional (UN) mulai tahun depan. Namun hingga menjelang akhir tahun 2020 sosialisasi dari AN tersebut belum juga terlaksana.

    Kepala Sekolah SMAN 2 Bayan, Lombok Utara, Mochammad Fatkoer Rohman juga mengatakan, sosialisasi AN belum dilakukan oleh disdik setempat. Fatkoer malah melakukan mencari informasi tentang AN secara mandiri melalui media sosial.

    "Kesiapan guru dan siswa bahwa sampai saat ini kita secara resmi belum mendapatkan dari kepala disdik, informasi AN ini kita mendapat dari jalur tidak resmi, Instagram Kemendikbud, secara resmi belum ada apa-apa, guru-guru itu belum paham," ucap Fatkoer dalam Webinar YouTube Pendidikan VOX Point, Minggu 25 Oktober 2020.

    Padahal pelaksanaanya kurang lebih enam bulan lagi. Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim mengatakan, belum ada pengaturan dan naskah akademik dari AN.

    "Secara resmi belum ada (sosialisasi), sebab dinas pendidikan (disdik) juga belum bisa sosialisasi, Permendikbudnya juga belum ada," kata Satriwan.

    Baca juga:  Legislator Dorong Asesmen Nasional Segera Disosialisasikan

    Hal ini juga diakui Guru SMA Negeri di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Imron Wijaya. Imron mengatakan informasi terkait AN baru sebatas draf dalam bentuk power point (ppt) dan pdf.

    "Selama ini kami di lapangan belum mendapat sosialisasi yang masif, hanya membagikan power point, pdf. Kalau semuanya mau baca, karena kami lihat literasi para guru itu juga rendah," jelas Imron.

    Minimnya sosialisasi dari pemerintah daerah maupun disdik ini dikhawatirkan membuat tujuan dari AN menjadi tidak jelas. Kebanyakan guru akhirnya menganggap AN adalah UN hanyalah kebijakan berganti nama belaka.

    "Masih belum (tahu) AN, AN malah menjadi semacam pengganti UN. Ini menjadi pengubahan nama dari UN ke AN," lanjut Imron.

    Kepala Bidang SMP dan SMA Disdik DKI Jakarta, Muhamad Husin pun mengungkapkan perihal penyebab pihaknya belum kunjung melakukan sosialisasi ke satuan pendidikan. Alasannya, belum ada petunjuk teknis (juknis), sehhingga muncul dugaan terjadi kendala teknis dalam mempersiapkan AN.

    "Kayaknya kendalanya ini teknis, selain juknisnya belum ada, jadi makanya Saya belum bisa menyosialisasikan (AN) Saya dasarnya apa mensosialisasikan," jelas Husin.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id