Kemampuan Literasi Indonesia Mandek Selama 18 tahun

    Ilham Pratama Putra - 07 April 2020 09:57 WIB
    Kemampuan Literasi Indonesia Mandek Selama 18 tahun
    Ilustrasi. Foto: ANT/Seno
    Jakarta: Kemampuan membaca atau literasi siswa Indonesia tidak berkembang salama 18 tahun. Hal ini ditunjukkan dari hasil survei Programme for International Student Assesment (PISA).

    Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengatakan, pada tahun 2000 skor kompetensi siswa Indonesia di PISA berada pada angka 371.  Kemudian 18 tahun berselang, angkanya masih sama persis di 2018.

    Menurut Satriwan, angka tersebut belum juga mengalami perbaikan jika tahun ini kembali dilakukan survei. Satriwan menyebut, ada kekacauan dalam pengelolaan minat baca anak Indonesia.

    "Tahun 2000 poin kita 371, sekarang juga sama. Berarti apa? tidak ada kemajuan selama 20 tahun. Kan kacau itu negara, 20 tahun tidak ada kemajuan dalam hal literasi," kata Satriwan kepada Medcom.id, Selasa 7 April 2020.

    Baca juga:  'Kriteria Ketuntasan Minimum' Kerap Membuat Siswa Tinggal Kelas

    Padahal menurutnya, dana yang digelontorkan untuk memajukan literasi tak sedikit. "Padahal dana untuk literasi sudah ada miliaran. Berarti ada yang keliru dalam pengelolaan literasi kita," tambahnya.

    Berbagai permasalahan disorotnya. Mulai dari tenaga pengajar yang tak mampu menularkan minat baca kepada siswa.  "Pertama yang saya salahkan adalah guru. Bagaimana siswa kita mau membaca, kalau gurunya malas membaca," ungkapnya.

    Selanjutnya ada kesalahan dalam konsep berpikir. Pendidikan di Indonesia masih pada tingkat Low Order Thinking Skills (LOTS).

    "Bagaimana siswa memahami berpikir kualitas tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS), gurunya aja masih metode LOTS di kelas. Guru hanya berorientasi pada menghafal, belum memahami, menalar, belum ke penyelesaian masalah," tegasnya.

    Baca juga:  Temuan PISA, 16 Persen Siswa di Indonesia Tinggal Kelas

    Skor PISA ini sebelumnya juga disorot oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas (ratas) pekan lalu.  Jokowi menyebut setidaknya ada tiga bidang kompetensi yang harus diperbaiki pendidikan Indonesia.

    Tiga bidang itu di antaranya, kompetensi membaca, matematika dan kemampuan sains. Hasil survei PISA 2018 itu menempatkan Indonesia di urutan ke 74 alias peringkat keenam dari bawah.

    "Kemampuan membaca siswa Indonesia di skor 371 berada di posisi 74. Kemampuan matematika skornya 379 berada diposisi 73. Dan kemampuan sains dengan skor 396 berda di posisi 71," kata Jokowi pada rapat terbatas peningkatan pendidikan Indonesia dalam PISA melalui konferensi video, Jum'at 3 April 2020.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id